Pemberdayaan Tradisi Bulusan

"Bulusan merupakan budaya lokal yang kesejarahannya perlu dieksplorasi mengingat merupakan perjalanan syiar Islam"
SEBAGIAN masyarakat muslim di Kudus 7 hari setelah Idul Fitri meramaikan sebuah tempat, yang biasanya disemarakkan oleh kehadiran penjual mainan, pakaian, makanan dan minuman, bahkan permainan anak-anak, terkait dengan perayaan Syawalan. Sebagian menyebutnya Bada Kupat (Lebaran Ketupat).
Tempat itu berlokasi di Dukuh Sumber Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo, dan keramaian itu konon berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Dalam perjalanan waktu aktivitas itu lebih dikenal oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya dengan nama (tradisi) Bulusan, yang biasa dilafalkan mbulusan.
Masyarakat yang biasa mendatangi keramaian tersebut tidak banyak yang tahu asal-usul penyebutan tradisi tersebut. Sebagian meyakini di tempat itu dulu banyak ditemukan bulus (kura-kura) yang bisa ditonton anak-anak atau orang dewasa, serta diramaikan oleh kehadiran sejumlah pedagang.
Pedagang itu menjual makanan minuman untuk pengunjung, dan sebagian berjualan mainan anak-anak, pakaian beserta pernak-perniknya semisal ikat pinggang, dompet dan sebagainya. Dalam bahasa sederhana, pedagang memanfaatkan kerumunan banyak orang untuk menjual dagangannya.
Padahal bila mau menelusuri lebih jauh, Bulusan merupakan legenda yang perlu diketahui oleh masyarakat Kudus dan muslim yang lain di Indonesia. Bulusan merupakan budaya lokal yang kesejarahannya perlu dieksplorasi mengingat merupakan perjalanan syiar Islam Sunan Muria
Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Bulusan berasal dari kata bulus. Konon suatu malam Ramadan Sunan Muria yang sedang membaca Alquran merasa terganggu oleh suara kecipak air di sawah, pertanda ada orang. Sunan mendatangi dan ternyata orang-orang yang lagi di sawah adalah Subakir, pejabat Kerajaan Mataram yang dikenal dengan nama Mbah Duda diiringi pengikutnya.
Sunan bertanya mengapa pada malam itu mereka ngrubyuk di sawah seperti kura-kura, padahal ini bulan Ramadan dan lebih baik bila mereka membaca Alquran. Berdasarkan cerita, Mbah Duda dan pengikutnya menjelma menjadi bulus.
Dalam menyiarkan agama Islam Sunan Muria selalu diikuti oleh kura-kura penjelmaan Mbah Duda dan pengiringnya itu.
Memanfaatkan Waktu
Dalam perjalanan syiar Islam, Sunan mengambil sebatang kayu adem ati (ada yang mengatakan itu pohon kluwak) dan menancapkan ke tanah lalu mencabutnya hingga  keluarlah air yang kemudian oleh masyarakat diyakini mata air Sungai Sumber.
Sunan memerintahkan kura-kura itu untuk menjaga sumber air itu yang lama-kelamaan menjadi sungai, seraya berkata bahwa kura-kura itu akan selalu mendapat makanan, terutama pada tanggal 7 bulan Syawal.  Karena itu, hingga sekarang, bila ada warga akan hajatan, mereka mendatangi sumber air itu dan memberi makan telur rebus untuk kura-kura itu, simbol bersedekah. Hal itu sebagaimana anjuran Sunan, yaitu supaya masyarakat memohon kepada Allah agar mendapat keselamatan dan kemudahan dalam menyelenggarakan hajatannya.
Melihat aspek kesejarahannya yang bernuansa religi, Bulusan seyogianya dikembangkan lebih baik lagi sehingga maknanya bisa lebih mendalam. Artinya, pengunjung tidak hanya memaknainya sekadar kegiatan hiburan sekaligus ekonomi. Memang beberapa waktu lalu ada kerja kreatif dari pemangku kepentingan dan masyarakat dengan menggelar arak-arakan budaya mengisahkan sejarah Bulusan. Di antara peserta kirab, menggunakan kostum bulus.
Kita berharap pada masa mendatang kegiatan itu tidak hanya keramaian atau aktivitas ekonomi  namun juga menggali perjalanan syiar Islam Sunan Muria. Hal itu sebagai peringatan sekaligus untuk memotivasi kita agar senantiasa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan bersedekah dengan ikhlas. (10)

– M Agus Yusrun Nafi’ SAg MSi, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kantor Kemenag Kudus, pengasuh Pondok Pesantren Sirajul Hannan Jekulo

suaramerdeka.com