Sejumlah Kiai Hadiri Pemakaman Mbah Dur

MUNGKID – Pemakaman Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Abdurrahman Chudlori, dihadiri ribuan masyarakat. Mereka berjajar dari mulai pondok hingga tempat pemakaman yang berjarak sekitar 500 meter tersebut. Masyarakat juga memadati jalan Magelang-Salatiga, sekitar rumah kediaman almarhum dan pondok. Suasana sedih dan haru sangat terasa dalam lautan manusia tersebut. Hujan tidak menyurutkan masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir.
Hadir dalam pemakaman tokoh Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) sejumlah kiai maupun pejabat. Di antaranya KH Dimyati Rois dari Kendal, KH Zuhri Ihzan (PWNU Jateng), Ketua PPP Lukman Hakim Syaifudin. Sejumlah kepala daerah di Kedu juga terlihat. Tampak pula Pujiono Cahyo Widianto alias Syeh Puji.
Sejak kabar meninggalnya salah satu kiai khos tersebut tersiar, petugas polisi sudah menutup arus lalu lintas yang melintas di pondok. Sejak kemarin sore, secara bergantian mereka menyalati jenazah di rumah duka. Kemudian menjelang prosesi pemakaman, jenazah dipindahkan ke musala yang ada di lingkungan pondok. Masyarakat masih diberi kesempatan untuk mensalatkan, hingga menjelang prosesi.
Bahkan hingga saat KH Nurul Huda Jazuli dari Ploso Kuning, Kediri memberikan tausiah untuk mengenang almarhum, di pojok musala masih saja masyaratkat mensalati. “Almarhum adalah kiai muda yang multidimensional. Sayangnya usianya sangat pendek. Dia meninggal dunia jauh di bawah usia saya,” kata pria Kiai Jazuli, kemarin.
Pengasuh Ponpes Al Falah Kediri tersebut menilai almarhum dapat melayani para kiai sepuh. Meski muda, KH Abdurahman Chudlori yang akrab disapa Mbah Dur tersebut dianggap sangat mumpuni di bidang agama.
“Dulu, saya diajari oleh Mbah Dalhar dari Muntilan maupun kiai dari Lasem bahwa Kiai Chudlori adalah salah seorang yang tirakatnya baik. Oleh anaknya, yakni almarhum, tirakat ini diteruskan dalam bentuk puasa Senin-Kamis, mujahadahan pada malam hari serta lainnya. Ini satu kelebihan almarhum. Karena itu para santri di Ponpes Tegalrejo untuk tidak berkecil hati dengan kepergian almarhum. Selama para santri selalu mengamalkan apa yang telah diajarkannya,” paparnya.
Pada kesempatan itu Bupati Magelang, Singgih Sanyoto, menyampaikan duka seluruh warga setempat atas kepergian Mbah Dur. Almarhum, selama ini telah berjasa memajukan kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara. “Masyarakat Magelang kehilangan tokoh besar, mari kita mendoakan almarhum semoga mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT," katanya.
Mbah Dur merupakan putra pertama pendiri Ponpes API Tegalrejo, almarhum KH Chudlori. Dian meninggalkan seorang istri Nyai Nur Faizah dengan enam anak yakni Nasrul Arif, Akhmad Izzudin, Kuni Sa'adati, Nur Kholida, Linatun Nafisah dan Zaimatus Sofia, serta lima cucu.
“Almarhum Mbah Dur, patut menjadi teladan bangsa terutama saat menghadapi persoalan yang rumit. Hal utama yang menonjol dari beliau adalah kearifan dan kebijakannya," tutur Lukman Hakim.
Mbah Dur meninggal dunia menjelang usia 68 tahun karena sakit. Almarhum menderita penyakit kanker paru-paru dan sejak 1 November 2010 lalu harus keluar masuk rumah sakit. Mantan Mustasyar PBNU tersebut meninggal di Rumah Sakit (RS) Lestari Raharja Magelang pukul 12.45, senin (24/1). Bahkan sebelum tutup usia, dia sempat koma sejak Jumat (21/1). (dem)
sumber:http://www.radarjogja.co.id

Hari-hari Dramatis Bersama Lahar Dingin

AWAN hitam di langit, rintik hujan, suara-suara informasi dan raungan sirene berseliweran di pesawat HT (handy talky), serta wajah-wajah tegang para relawan, adalah indikasi bahwa sedang terjadi sesuatu di atas, yakni Gunung Merapi.

Inilah rentetan drama ketegangan yang setiap hari terjadi di Muntilan, Kab. Magelang dua bulan terakhir ini, menyusul masih seringnya terjadi hujan di kawasan itu.

"Di atas melaporkan, tidak dalam kondisi landai, sedang hujan deras, kita diharap waspada dengan akan terjadinya bajir lahar dingin, kali ini sungai Pebelan, " kata Alex, salah seorang relawan di pos pemantauan Kompag merespon infomasi dari pos Induk, di Kec. Dukun.

Demi mengontrol kondisi yang terjadi di puncak dan lereng Merapi, kini dikendalikan lewat pos-pos pemantauan bencana. Salah satu diantaranya adalah Kompag (Komunikasi Peduli Aktivitas Gunung Merapi) yang sekarang berkonsentrasi pada penanganan bencana lahar dingin.

Di posko ini berkumpul banyak orang diantaranya, relawan, anggota SAR, wartawan, bahkan korban bencana yang ikut sebagai relawan. Pos ini menempati bekas showroom sepeda yang sudah dikosongkan akibat bencana yang berada di pinggir Desa Jumoyo, di pinggir jalan raya Magelang - Jogja.

Di pos itu hanya ada meja rongsok sebagai tempat alat penerima pesawat rig dan beberapa HT. Alat-alat ini yang bisa bertukar informasi dengan pos-pos lain untuk memantau perkembangan cuaca, debit air sungai atau info penting, terutama dari pos induk di dusun Rejosari, Talun, kec, Dukun, Magelang. Di mana lewat pos ini bisa dipantau ke mana kira-kira banjir lahar dingin itu mengarah.

Seperti Senin siang 24/1) kemarin, posko induk mengabarkan, debit air sudah memenuhi Sungai Pabelan. Berarti banjir lahar dingin akan mengalir di sungai terbesar di antara sungai-sungai lain yang melewati jalan utama Magelang - Jogja itu.

Sungai Pabelan ini berjarak 4 km dari Sungai Putih. Sungai Pabelan ini terbesar di antara beberapa sungai yang berhulu di lereng Merapi, yakni Sungai Blongkeng, Senowo, Putih, Tringsing, Cacaban atau Sungai Juweh.

Betul juga. Dalam hitungan menit, air keruh bercampur pasir dan material lain sudah bergolak mengerikan dengan warna coklat. Pemandangan ini menarik warga yang menontonnya dari atas jembatan Pabelan di Desa Pabelan, Kec. Mungkid.

Mengosongkan jalan.

Sementara Sungai Pabelan bergolak, pos induk menginformasikan, banjir susulan akan menerjang Sungai Putih yang berjarak 4 km dari Pabelan, sehingga polisi harus mengosongkan ruas jalan Magelang - Jogja ini. Pengosongan ini untuk mengantisipasi banyaknya kendaraan yang terjebak dan lumat oleh terjangan lahar dingin seperti beberapa hari lalu.

Bribtu Hadi S tak henti-hentinya memerintahkan para warga yang masih nekat berdiri di jembatan dan bantaran Sungai Putih di Desa Jumoyo kec. Salam, Magelang untuk segera menjauh dan meninggalkan tempat.

"Kecuali petugas dan relawan, semua warga harap meninggalkan tempat ini. Kami tidak mau lagi harus menggotong-gotong korban seperti kemarin-kemarin," seru Hadi S. lewat megapon.

Tapi seruan itu tak digubris warga. Terbukti mereka masih berdiri di atas bebatuan di bantaran sungai demi menyaksikan debit air sungai Putih yang mulai meninggi.

Magnet apakah sebenarnya dari lahar dingin itu? Sehingga warga masyarakat rela menyaksikan drama datangnya lahar dingin di ketegangan yang ada?

Senin sore kemarin, adalah drama ketegangan kesekian yang dirasakan semua orang yang ada di ruas jalan utama itu, persisnya antara Desa Gulon - Desa Jumoyo. Desa-desa itulah yang diapit Sungai Putih dan Sungai Pabelan.

Disebut ketegangan kesekian, karena sudah 3 kali warga masyarakat dicekam kengerian terjangan lahar dingin yakni tanggal 3, 7 dan 23 Januari 2011. Karena terjangan lahar ini telah melumat 309 rumah, dengan rician 87 rumah hanyut, 149 rusak berat, 63 rusak sedang, dan 10 rusak ringan. Serta beberapa mobil, sepeda motor, dan korban jiwa.

Amukan lahar dingin ini juga melumat 9 jembatan, 2 ruas jalan di Sungai Putih dan Sungai Pabelan. Sampai kapan para relawan dan petugas pemantauan itu akan tetap berada di pos-posnya, tidak seorang pun yang tahu. Termasuk, mungkin, Surono, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, "Kita semua tidak tahu kapan hujan akan berhenti, kalau pun nanti berhenti, kelak kalau ada musim hujan lagi, ya lahar dingin ini masih akan terus ada," kata Surono.

Secara data, Surono ada benarnya, karena di rongga Merapi saat ini masih tersimpan sekitar 150 juta meter kubik material vulkanik, dan sekarang baru sekitar 30 persennya yang keluar berupa banjir lahar dingin itu.

(Bambang Iss/CN25)
sumber:http://suaramerdeka.com

Produktivitas Buah Naga Turun Akibat Cuaca Ekstrem


Magelang, CyberNews. Cuaca ekstrem telah memupus harapan Said (70) untuk bisa meraup untung banyak menjelang pergantian tahun baru Cina (Imleks/Sincia 2561) yang jatuh 3 Februari 2011.

Tanaman buah naga (dragon fruit) yang ditanam di kebunnya Dusun Sempu, Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, tidak berbuah maksimal seperti tahun-ahun sebelumnya.

“Setiap pohon hanya berbuah dua-tiga. Tahun lalu sampai 20 buah/pohon,” tutur Samsudin (45), pegawai Kebun Buah Naga Sempu, Kamis (27/1).

Soal animo pembeli, masih tetap tinggi. Tak hanya warga Magelang, tetapi juga Semarang, Temanggung, Solo, Wonosobo dan Salatiga. Karena di kebun itu tersedia 1.200 batang pohon buah naga.

“Tetapi sayangnya pesanan tak dapat dipenuhi karena jumlah hasil panen tidak memadai. Yang kasihan pemesan dari Semarang gagal mengirimkan buah naga dari Sempu kepada kerabatnya di Hong Kong,” tutur Erna, pegawai lain di kebun itu.

Menurut Said, yang banyak dicari menjelang Imlek, buah naga berwarna merah dan super merah serta bersirip panjang. Mereka biasanya memerlukan untuk sesaji dan dikonsumsi sendiri.

Said menanam buah naga lima tahun silam. Bibitnya membeli di Pasuruhan, Jatim, Rp 15.000 dengan ukuran panjang 15 cm. Bibit itu ditanam pada lahan seluas 1.500 meter persegi. Umur satu setengah tahun tanaman itu berbuah. Panen tiap musim hujan antara Oktober sampai April. Setiap kubangan menghasilkan 8 buah, masing-masing seberat 0,5 kg. Tetapi ada juga yang mencapai 9,78 Gram. Oleh Said, buah itu dijual Rp 20.000/kg.

Buah naga yang dikembangkan Said jenis kulitnya kuning kemerahan dengan daging putih (selenicerius megalanthus). Ia juga mulai membudidayakan buah naga jenis daging super merah (hylocereus costaricensis). Buah naga super merah oleh sebagian kalangan diyakini bisa menurunkan kadar gula dan kolesterol.

( Tuhu Prihantoro / CN16 / JBSM )

sumber:http://suaramerdeka.com

Sespri Presiden SBY Diganti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kolonel (Inf) Agung Risdhianto mendapat jabatan baru sebagai Sekretaris Pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengangkatan itu berdasarkan Keputusan Panglima TNI No 34/2011 tertanggal 25 Januari 2011. Mutasi Agung ini bersamaan dengan mutasi puluhan perwira lain di lingkungan TNI. Keputusan berlaku mulai 1 Februari mendatang.

Dalam Surat Keputusan itu diputuskan tentang pemberhentian dari dan pengangkatan yang terdiri dari 11 orang di jajaran Mabes TNI, 7 orang di jajaran TNI AD, 15 orang di jajaran TNI AL, 2 orang di jajaran Lemhannas RI, 1 orang di jajaran Universitas Pertahanan, dan 1 orang di jajaran Sekretaris Pribadi Presiden RI.

Kadispenum Puspen TNI Kolonel Minulyo Suprapto, dalam rilis tertulis pada Rabu (26/1), mengatakan, mutasi itu dalam rangka pembinaan organisasi TNI, yakni guna mengoptimalkan tugas-tugas TNI yang sangat dinamis dan semakin berat ke depan. "TNI terus melakukan upaya peningkatan kinerja TNI melalui Mutasi dan Promosi Jabatan Personel di tingkat Strata Pati sehingga kinerja TNI ke depan lebih optimal," kata Minulyo.

Dalam situs Sekretariat Kabinet, saat ini Sekretaris Pribadi Presiden masih dijabat Brigjen (TNI) Ediwan Prabowo. Agung saat ini masih menjabat sebagai Pabandya IV/Siapsat/SOPS Angkatan Darat.

Sedangkan, perwira TNI lain yang dimutasi di antaranya Laksda TNI Soleman B Ponto dari Aspam Kasal menjadi Kabais TNI, Mayjen (TNI) Suharsonodari Gubernur Akmil menjadi Pangdam XVI/Pattimura, Brigjen (TNI) Ridwan dari Dirlat Kodiklat TNI AD menjadi Dan Secapa AD. n ikh
sumber:http://www.republika.co.id

Agung Risdhianto Jadi Sekretaris Pribadi Presiden

JAKARTA (Pos Kota) – Dalam rangka pembinaan organisasi TNI guna mengoptimalkan tugas-tugas TNI yang sangat dinamis dan semakin berat ke depan, TNI terus melakukan upaya peningkatan kinerja TNI melalui Mutasi dan Promosi Jabatan Personel di tingkat Strata Pati sehingga kinerja TNI ke depan lebih optimal.

Berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/ 34/ I / 2011 tanggal 25 Januari 2011, telah diputuskan tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI yang terdiri dari 11 orang di jajaran Mabes TNI, 7 orang di jajaran TNI AD, 15 orang di jajaran TNI AL, 2 orang di jajaran Lemhannas RI, 1 orang di jajaran Universitas Pertahanan (Unhan) dan 1 orang di jajaran Sekretaris Pribadi Presiden RI.

Dalam mutasi tersebut tercatat sebagai berikut : 17 orang mutasi antar jabatan dalam pangkat yang sama diantaranya : Laksda TNI Soleman B. Ponto, S.T. dari Aspam Kasal menjadi Kabais TNI, Mayjen TNI Hatta Syafrudin dari Pangdam XVI/Ptm menjadi Koorsahli Kasad, Mayjen TNI Suharsono, S.IP. dari Gubernur Akmil menjadi Pangdam XVI/Ptm, Laksma TNI Agus Heryana dari Pati Mabesal menjadi Waaspam Kasal, Brigjen TNI Ridwan dari Dirlat Kodiklat TNI AD menjadi Dan Secapaad, Brigjen TNI Dr. Ir Suharno, M.M. dari Pa Sahli Tk. II Bid. Intekmil Panglima TNI menjadi Kababek TNI.

Brigjen TNI Ir Abdul Rahim dari Dansatkomlek TNI menjadi Pa Sahli Tk. II Bid. Intekmil Panglima TNI, Laksma TNI Arie Henrycus Sembiring M. dari Kaskolinlamil menjadi Staf Khusus Kasal, Laksma TNI I N G N Aryatmaja, S.E. dari Danguskamlabar menjadi Kaskolinlamil, Brigjen TNI (Mar) Triono Sulistyohadi dari Danlantamal XI/Mer menjadi Staf Khusus Kasal dan Laksma TNI Ir. Eko Djalmo Asmadi dari Kadismapal menjadi Staf Khusus Kasal.

Tiga belas orang promosi jabatan diantaranya: Laksma TNI Ir. I Putu Yuli Adnyana dari Waaspam Kasal menjadi Aspam Kasal, Brigjen TNI Bachtiar, S.IP. dari Dansecapaad menjadi Gubernur Akmil, Brigjen TNI Drs. Johanes Budi Rahardjo dari Kababek TNI menjadi Pa Sahli Tk. III Bid. Banusia Panglima TNI, Kolonel Inf Mulyono dari Wadan Secapaad menjadi Dirlat Kodiklat TNI AD, Kolonel Chb Rusmanto dari Paban IV/Sistek Skomlek TNI menjadi Dansatkomlek TNI, Kolonel Laut (P) Pranyoto, S.Pi. dari Sahli A Wilnas Pangarmatim menjadi Dirlat Kodiklat TNI.

Kolonel Laut (P) Desi Albert Mamahit, M.Sc. dari Paban V/Straops Sopsal menjadi Danguskamlabar, Kolonel Mar Bambang Soemarjono dari Irkobangdikal menjadi Danlantamal XI/Mer, Kolonel Laut (T) Teguh Prihantono dari Sekdispamal menjadi Kadispamal, Kolonel Laut (P) Sulaeman Bandjar Nahor, S.E. dari Irarmabar menjadi Danguspurlatim dan Kolonel Inf Agung Risdhianto, M.B.A., dari Paban IV/ Siapsat Sopsad menjadi Sekretaris Pribadi Presiden RI.

Sementara itu tujuh orang dalam rangka pensiun diantaranya: Mayjen TNI Anshory Tadjudin dari Kabais TNI menjadi Pati Mabes TNI AD, Mayjen TNI (Mar) O. Sumantri Dipradja, S.IP. dari TA. Pengajar Bid. Geopol & Wasantara Lemhannas RI menjadi Pati Mabes TNI AL, Mayjen TNI Deddy Setia Budiman dari Pa Sahli Tk.III Bid Banusia Panglima TNI menjadi Pati Mabes TNI AD dan Laksma TNI Abdul Latif dari Kadiswatpersal menjadi Pati Mabes TNI AL.

Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/ 34/ I / 2011 tanggal 25 Januari 2011 tersebut berlaku terhitung mulai tanggal 1 Februari 2011.

Authentikasi:
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc., M.Si., M.A

sumber:http://www.poskota.co.id

Panglima TNI Terima Pepabri di Mabes Cilangkap

JAKARTA (Pos Kota) – Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. menerima kunjungan Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri) Jenderal TNI (Purn) H. Agum Gumelar di ruang tamu Panglima TNI Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Senin (24/1). Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk bersilaturahmi.

Dalam pertemuan tersebut dibicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan TNI dan Polri. Diharapkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan TNI dan Polri semakin solid demi persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu Ketua Pepabri menyampaikan program kerja tahun 2011 diantaranya Pepabri akan melaksanakan kunjungan ke Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Kepolisian (Akpol).

Sementara Panglima TNI menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Umum Pepabri dan rombongan atas kunjungannya dan sangat mendukung program-program Pepabri yang telah tersusun dengan baik.

Saat menerima tamunya Panglima TNI didampingi Aspers Panglima TNI Marsda TNI Daryatmo, S.Ip, Aster Panglima TNI Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution dan Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, SE. Sedangkan Ketua Umum Pepabri didampingi Komjen Pol (Purn) Drs. Yun Mulyana (Sekretaris Jenderal), Mayjen TNI (Purn) H. Moch. Akip Renatin (Ketua Departemen Organisasi), Mayjen TNI (Purn) S.N. Suwisma (Ketua Departemen Komsospolkam), Mayjen TNI (Purn) H. Bachrul Ulum (Ketua Departemen Ekonomi), Laksda TNI (Purn) H. Warsono HP. MA. (Ketua Departemen Jah & Bintalbud), Warakawuri Ny. Sri Retnaningsih Sugeng AS. (Ketua Departemen Wanita), Marsda TNI (Purn) Hari Dwiyono Widodo (Bendahara) dan Laksma TNI (Purn) H. Soenardjo (Wakil Sekretaris Jenderal).


sumber:http://www.poskota.co.id

14 Unit Pamsimas Kudus Siap Dibangun

Kudus,CyberNews. Sebanyak 14 unit Pamsimas untuk 14 desa di Kabupaten Kudus tahun ini siap dibangun. Saat ini telah memasuki tahap sosialiasi, namun penetapan lokasi pembangunan belum ditentukan.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kudus, Heri Triyogo melalui Kabid Cipta Karya Heru Subiyantoko, mengatakan penetapan lokasi pembangunan menunggu Surat Keputusan Bupati. Saat ini, katanya, SK tersebut masih digodok.

Terkait pembangunan 14 Pamsimas yang menelan dana Rp 3,8 miliar dari APBN serta pendamping APBD, pihaknya mengadapkan bisa mengatasi krisis air di Kudus. Menurutnya, setiap desa akan memperoleh dana sebesar Rp 275 juta dengan perincian Rp 197 juta berasal dari pusat, Rp 22 juta dari pendampingan APBD Kabupaten.

Sementara sisanya merupakan kontribusi wajib dari desa berupa material dan tenaga. Kecuali untuk Desa Prambatan Kidul, total dana berasal dari APBD Kabupaten. Pasalnya, Pamsimas di desa tersebut merupakan program replikasi yang mana pembiayaannya dibebankan pemerintah daerah.

Sejauh ini, menurut Heru, masih banyak desa-desa yang membutuhkan fasilitas Pamsimas. Desa-desa tersebut merupakan desa dengan indikasi angka kemiskinan yang tinggi serta kategori kekurangan air bersih. Menurutnya, tidak semua desa bisa dibangun pamsimas. "Harus ada survei dan kajian mendalam," katanya

Total desa yang tersentuh Pamsimas dari pembangunan tahun 2008 sampai 2010 mencapai 36 desa. Di antaranya adalah Glagah Waru, Sadang, Jepang, Mejobo,Hadiwarno, Golantepus, Gondosari, Rahtawu, Karangmalang, Undaan Kidul,Setrokalangan, Kedungdowo,serta Prambatan Kidul, dan Garung Lor.

( Zakki Amali / CN26 / JBSM )

sumber:http://suaramerdeka.com

Didistribusikan, Raskin untuk 35 Ribu RTS di Kudus


Kudus, Cybernews. Beras untuk rakyat miskin (Raskin) untuk warga Kudus mulai didistribusikan mulai Rabu (12/1) sampai dengan 20 Januari 2011. Hal ini berdasarkan Surat Gubernur Jateng No 551/23857 tertanggal 23 Desember 2010 tentang pagu alokasi raskin provinsi Jateng 2011.

Di dalam aturan tersebut dijelaskan juga mengenai jumlah yang diterima oleh masing-masing rumah tangga sasaran (RTS) yaitu sebanyak 15 kg. Harga jual beras masih seperti pada tahun lalu yaitu Rp 1.600/kg.

Bupati Kudus, H Mustofa, mengatakan pembagian raskin di Kudus mencapai 35.502 RTS, dengan jatah masing-masing sebanyak 15 kg sehingga total raskin sebanyak 532.530 kg. Ia mengatakan secara umum program ini sangat bermanfaat, karena harga beras di pasaran cenderung naik setiap akhir hingga awal tahun.

Diharapkan penyaluran raskin di awal tahun akan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin. Hal tersebut juga bisa menahan laju kenaikan harga beras.

"Tak hanya tingkat rumah tangga saja, program raskin dapat membantu perwujudan ketahanan pangan di tingkat nasional. Harapannya, program pengadaan raskin dapat memacu produksi beras dalam negeri. Hal ini dikarenakan jika produksi beras dalam negeri tinggi, serapan beras juga lebih baik. Akibatnya swasembada beras dapat dipertahankan," katanya.

Ada lima indikator, imbuhnya, yang digunakan dalam penyaluran raskin agar pencapaiannya lebih optimal, yakni tepat sasaran, jumlah, harga, waktu, administrasi, dan kualitas. Untuk itu Kepala desa/kelurahan setempat dan pihak-pihak terkait untuk aktif melakukan pengawasan terhadap penyaluran raskin di wilayahnya agar tidak terjadi penyimpangan.

"Jika ditemukan ada beras yang tidak layak konsumsi, masyarakat dipersilahkan untuk melapor ke perangkat setempat yang kemudian akan diteruskan ke Dolog untuk mendapatkan penggantian. Hal ini dimungkinkan karena distribusi dilakukan pada saat cuaca seperti ini, di mana bisa saja beras terkena air hujan dan ketika sampai ke tangan penerima tidak sesuai lagi dengan kualitas awalnya," katanya.

Untuk rincian penerima setiap kecamatan adalah Kecamatan Jati sebanyak 51.780 kg untuk 3.452 RTS, Bae 41.265 kg untuk 2.751 RTS, Dawe 90.540 kg untuk 6.036 RTS dan Jekulo 80.520 kg untuk 5.368 RTS. Gebog 62.040 kg untuk 4.136 RTS, Kaliwungu 52.200 kg untuk 3.480 RTS, Kota 45.510 kg untuk 3.034 RTS, Mejobo 39.720 kg untuk 2.648 RTS dan Undaan 68.955 kg untuk 4.597 RTS.

sumber:http://suaramerdeka.com

Pengusaha Konveksi Keluhkan Kenaikan Harga Kain


Magelang, CyberNews. Sejumlah pengusaha konveksi mengeluhkan kenaikan harga bahan baku berupa kain pada awal tahun ini bahkan sudah berangsur-angsur naik setelah peristiwa erupsi Merapi. Hanya saja mereka merasa pasrah meski agak berat menerimanya karena mau tidak mau turut menaikkan harga produk konveksinya.

Mustafa Kamal (48), pemilik usaha konveksi SWN mengatakkan, bahwa kenaikan harga bahan baku terutama kain sudah terjadi paskaerupsi Merapi dua bulan silam, sekitar 30 persen. Bahkan terus meningkat hingga sekarang meski sempat menurun tipis.

Sebelum terjadi Merapi, katanya harga kain Rp 8000 per meter dan kain kaos Rp 37 ribu per kilogram. Setelah bencana Merapi harga naik menjadi Rp 12 ribu/m dan Rp 55 ribu/kg. Sekarang untuk kain kaos sedikit sedikit turun, sebesar Rp 5000 sehingga harga sekarang menjadi Rp 50 ribu/kg.

“Kami kurang mengetahui persis penyebab kenaikan tersebut karena sudah dari grosirnya di Jogja. Yang jelas ketika saya belanja bahan baku setelah terjadi bencana ala, harga sudah naik,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya di Desa Gandusari Bandongan Magelang, Minggu (23/1).

Akibat kenaikan harga bahan baku yang paling penting tersebut, pihaknya pun mau tidak mau menaikkan harga produknya agar tidak mengalami kerugian. Namun demikian, dia hanya bisa menaikkan harga sedikit karena takut akan terjadi penurunan pelanggan.

“Harganya kita naikkan 10 persen atau Rp 2500 per stel pakaian. Misalnya untuk pakaian seragam sekolah, dulu seharga Rp 25 ribu per stel, sekarang naik menjadi Rp 27.500 per stel. Kita tidak berani menaikkan banyak karena takut pelanggan berkurang. Apalagi kebanyakan pelanggan dari masyarakat kecil,” katanya.

Selain pakaian seragam sekolah, dia juga membuat aneka produk konveksi lainna seperti kaos, pakaian training, jaket, rompi, dan lain sebagainya. Meski ada kenaikan, kata bapak tiga putra ini pesanan masih tetap ramai. Selain karena kualitas, perusahaan ini merupakan satu-satunya usaha konveksi yang berdiri di tengah-tengah kampung sehingga menjadi tujuan utama masyarakat sekitar terutama instansi pendidikan untuk membuat aneka pakaian mulai dari seragam hingga perorangan.

“Ya syukurlah pesanan masih banyak. Rata-rata dalam sebulan ada sekitar 1000 pcs pesanan. Lumayan masih cukup untuk menutup biaya produksi dan membayar karyawan,” ungkapnya.

Keluhan akan kenaikan harga bahan baku ini tidak hanya dari pengusaha konveksi, tapi juga para penjahit yang sering menerima pesanan pembuatan pakaian terutama seragam sekolah. Muh Jarkoni (58), salah satunya. Ia pun turut merasakan dampak kenaikan bahan baku tersebut.

Pak Muh, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia menaikkan harga pakaian baru yang dibuatnya sejak harga bahan baku naik. Saat ini, untuk pakaian kemeja dipatok Rp 25 ribu/potong, celana panjang Rp 40 ribu/potong, jaket Rp 50 ribu/potong.

“Saya kurang mengetahui persis penyebab kenaikannya, mungkin karena bencana alam maupun karena harga kebutuhan pokok yang juga naik. Meski harga tarif pembuatan naik, tapi kenaikannya tidak banyak, rata-rata per potong naik Rp 5000 sampai Rp 10 ribu tergantung tingkat kesulitan,” jelasnya.

( Asef Amani / CN27 / JBSM )

sumber:http://suaramerdeka.com

Sari Tebu Untuk Calon Perwira Militer Hingga RI-1


TEMPO Interaktif, Magelang -Dulu, tiga tahunan lalu, sebuah kebun tebu rimbun tumbuh di lahan itu. Meski kini telah berubah menjadi restoran dan kafe, orang masih mengenalnya sebagai Kebon Tebu. Ya, New Kebon Tebu Resto and Cafe namanya.

Berada di jalan jalan Gatot Subroto kota Magelang, restoran dengan fasilitas lengkap itu terletak persis di depan kompleks Akadami Militer. Hall luas berkapasitas 1.000 orang dengan sarana karaoke, dua meja bilyard di lantai dua, sawung untuk menikmati menu makanan berkonsep outdor hingga minimarket yang menjual pernak-pernik suvenir dan oleh-oleh. “Selain indor,” kata Asisten Manajer New Kebon Tebu Resto and Cafe Aris Setiawan, Jumat (14/1) siang, “Konsepnya juga outdor.”

Karena lokasi yang persis di depan Akademi Militer, restoran ini kerap menjadi jujukan Taruna Akademi Militer mampir di waktu pelesiran. Menurut Aris, di hari-hari saat Taruna diberi izin pelesir, hampir bisa dipastikan tempatnya selalu ramai oleh calon-calon perwira tentara itu. Biasanya, lanjut dia, hari Jumat, Sabtu dan Minggu. “Yang paling ramai akhir pekan,” katanya.

Bahkan, tempatnya pun menjadi langganan lokasi Taruna merayakan ulang tahun. Dekat dan nyaman, mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya. Selain itu, dengan menu makanan beragam, restoran ini mensasar pelanggan dari kelas bawah hingga atas. Tak heran, restoran senyaman itu pun mematok harga relatif murah. Dari Rp 7 ribuan hingga puluhan ribu untuk harga per porsi makanan dan minuman.

Ayam laba-laba, demikian Aris menyebut menu andalan. Ayam goreng crispy itu cukup digemari pelanggannya. Juga ada saus kabut sutra yang khusus dihidangkan bersama menu seafood. Adapun minuman andalan di tempat ini, adalah es sari tebu. Bahan baku tebu didatangkan secara khusus dari Jawa Timur.

Air perasan dari tebu itu berwarna kehijauan. Rasa manisnya tak bikin perut eneg dan cocok diseruput di siang hari yang terik. Selain segar, perasan air tebu itu juga diyakini berkhasiat menurunkan gula darah penderita diabetes. “Gula dilawan dengan manis,” kata dia.

Selain menawarkan paket perorangan, restoran ini sekaligus melayani paket makanan untuk jamuan pernikahan dan reuni. Sejumlah temu reuni alumni Akademi Militer pernah digelar disini. Diantaranya adalah para alumni tahun 1965. “Sekitar seribu orang undangan hadir di sini,” kata dia mengingat.

Seringnya restoran ini digunakan perwira dan calon perwira militer, kata dia, itu lantaran telah ada kerjasama dengan pihak Akademi Militer. Bahkan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mampir ke Akmil Magelang dalam kunjungan meninjau korban bencana Merapi, makanan yang dihidangkan dipesan dari restoran ini.

Didirikan Maret 2009 lalu, awalnya restoran ini tak bernama. Hingga seorang kawan dari owner restoran Fredy Susanto mensarankan nama Kebon Tebu. Gayung bersambut, apalagi pengusaha asal Magelang langsung teringat sebuah minuman sari tebu yang pernah ditemuinya. Dengan tetap mempertahankan es sari tebu andalan, 4 bulan lalu restoran kembali berganti nama. New Kebon Tebu Cafe and Resto.

ANANG ZAKARIA

sumber:http://www.tempointeraktif.com

Harga Gula Pasir Naik

TEMANGGUNG--MICOM: Harga gula pasir di Temanggung dan Magelang, Jawa Tengah naik Rp 2.000 / kg dalam sepekan terakhir. Pantauan di sejumlah pasar tradisional di dua daerah itu, harga gula pasir saat ini Rp 11.000/kg. Padahal, sepekan sebelumnya harga gula pasir lokal masih Rp 9.000/kg.

Sementara itu, untuk gula pasir secara eceran dijual seharga Rp 3.000 untuk seperempat kg. "Ini harga gula mulai naik lagi, tidak tahu kenapa,"kata Ani,40 pedagang sembako di Pasar Kliwon Temanggung, Minggu (16/1). Menurut Budi, 30, pedagang di Pasar Secang Magelang, biasanya gula hanya naik jika menjelang hari raya.

"Namun kali ini kenaikannya tidak tentu. Ini tidak hari raya juga naik,"katanya, Minggu (16/1).

Sementara itu, sejumlah konsumen mengeluhkan kenaikan harga gula. "Sekarang apa-apa mahal. Gula juga ikutan mahal harganya. Naik terus,"gerutu Kastumi, warga Magelang. (OL-12)
sumber:http://www.mediaindonesia.com

Lodeh Rumahan dari Secang

KOMPAS.com — Bayangkan menyantap sepiring sayur lodeh dengan nasi hangat dan potongan ikan asin. Seusai makan, kita ditemani teh tubruk dalam sajian cangkir blirik. Itulah kenikmatan di Kedai Kopi Klotok di Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tidak susah menemukan lokasi kedai yang terletak di tepi Jalan Raya Magelang-Semarang, sekitar 6 kilometer sebelum Kota Magelang dari arah Semarang. Berada di lahan seluas lebih kurang 3.000 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.300 meter persegi, ciri khas warung makan ini adalah bangunan utama bergaya arsitektur limasan berbahan kayu jati dengan bata timbul di bagian belakang.

Warung makan itu milik Pramono, pengusaha asal Blora yang sudah lama menetap di Magelang. Konon, dahulu tertera angka 1898 di bagian atas limasan yang dipindahkan dari Kabupaten Blora, di pesisir timur Jawa Tengah.

Sebagian ornamen memperkuat kesan rumah kampung zaman dahulu, seperti meja dan bangku panjang dari kayu jati tua. Di atas meja diletakkan beberapa stoples kaca model kuno berisi penganan kampung, semisal lanting. Juga ada kertas papir serta tembakau rajangan yang siap dilinting dan diisap.

Menurut Manajer Operasional Kopi Klotok Ayu Kusumadewi, bangunan limasan itu sempat dijadikan galeri barang-barang antik sejak tahun 2006. ”Banyak orang yang berkunjung mengusulkan dijadikan rumah makan saja, sekaligus tempat istirahat,” tutur Ayu pada hari terakhir tahun 2010.

Variasi lodeh

Di warung makan ini hanya tersedia makanan utama yang khas ”ndeso”, yaitu beragam varian sayur lodeh seperti sayur lodeh tempe lombok ijo, lodeh kluwih (serupa buah sukun tetapi berserat lebih halus), atau lodeh terong. Sebagai pelengkap, ada gereh layur (ikan asin), tahu bacem, telur dadar atau ceplok, pindang goreng, atau ayam kerikil (ayam potongan kecil). Disediakan pula pilihan nasi putih ataupun sego megono (nasi yang dicampur nangka muda).

Kekhasan lainnya, pengunjung Kopi Klotok bisa langsung ke dapur untuk mengambil sendiri nasi ataupun lauknya dengan takaran sepuasnya. Bahkan, pengunjung juga bisa tambah nasi dan lodeh sampai kenyang tanpa terkena biaya tambahan.

Satu porsi nasi putih dihargai Rp 2.500, sedangkan sego megono Rp 5.000. Sayur lodeh Rp 4.500 dan menu pendamping berkisar Rp 500 untuk sambal dadak hingga Rp 6.000 untuk buntil. Namun, ada pula tawaran paket makan puas Rp 8.500 per orang untuk nasi putih, lodeh, gereh, serta sambal. Rasa segar sayur lodeh yang sedikit pedas dan manis lebih mantap dipadu dengan rasa asin dan krenyes-krenyes potongan ikan asin.

Bagi Ayu, ukuran makan sepuasnya bagi tiap orang berbeda. Pernah ada tiga tamu bisa menghabiskan 12 piring. ”Tapi tetap enggak rugi karena ada tambahan minuman dan makanan tambahan yang lainnya,” tutur Ayu.

Tetapi, apa menguntungkan dengan makan sepuasnya? ”Pasti, karena kalau tidak, usaha ini tidak akan bertahan,” katanya sambil tertawa.

Ada beberapa pilihan minuman, seperti teh tawar, teh manis, jeruk, kopi klotok (kopi rebus), dan teh tubruk gula batu. Kopi klotok biasanya disajikan dalam gelas belimbing atau gelas dengan uliran bagian bawah yang mirip belimbing. Teh tubruk terhidang di cangkir blirik berbahan kaleng dengan motif loreng hijau muda dan putih. Untuk penganan ringan, tersedia pisang goreng dan juadah goreng. Nikmat.

Testimoni Mahfud MD

Sejak didirikan September 2009, rata-rata ada 150 pengunjung setiap hari. Pada hari-hari libur, jumlah pengunjung bisa naik 2-3 kali lipat. Warung makan ini buka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 21.00. ”Tamu-tamu kami kebanyakan orang Jawa Tengah yang merantau. Ketika pulang kampung, mereka kangen makanan desa yang dulu disantap di rumah,” tutur Ayu.

Sebenarnya, tidak ada resep khusus masakan Kopi Klotok. Semuanya disiapkan empat koki yang dikepalai Bu Har, juru masak keluarga eyang pemilik rumah makan ini. Boleh jadi itu juga yang membuat masakan tersebut menjadi berkesan begitu rumahan, membuat kangen, dan akhirnya menjadi klangenan.

Simon Supriyadi (44), pengusaha ayam potong dari Kudus, pun berkomentar, ”Saya jadi ingat rumah orangtua saya di Pekalongan. Makanannya pas, begitu juga dengan kopi klotoknya.”

Kendati usia rumah makan ini terbilang masih muda, ada beberapa tokoh nasional yang bersantap di sana, misalnya Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang kerap datang bersama sang istri. Mahfud bahkan sempat memberikan testimoni, ”Kopi yang enak dan lezat. Masakan yang nikmat ala tradisional”.


sumber:http://travel.kompas.com

Delapan Jalan Pemkab Kudus Rusak Berat

Kudus, CyberNews. Sejak digunakan untuk jalur alternatif menghindari kerusakan akses Pantura timur masuk ruas Kudus - Pati di Kecamatan Jekulo, delapan sarana penghubung milik Pemkab rusak berat.

Kondisi tersebut dipicu banyaknya kendaraan bertonase berat yang melintas di kawasan tersebut. Padahal, jalan tersebut tidak didesain untuk dilewati kendaraan bertonase besar.

Kepala Dinas Bina Marga Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral, Arumdyah Lienawati, ketika dikonfirmasi Selasa (18/1) mengatakan, delapan ruas yang rusak tersebut adalah Jalan Terban - Sidomulyo, Pladen - Bulungcangkring, Sidomulyo - Bulungcangkring, Ngetuk - Ngelo, Krawang - Dau, Tergo - Glagah, Dukuh Waringin - Tergo dan Colo - Dukuh Waringin.

Dikatakan, jalan-jalan tersebut digunakan sebagai jalur alternatif sebelah selatan maupun utara. Estimasi panjang jalan yang rusak mencapai 12 kilometer. Hingga saat ini, pihaknya masih terus memantau perkembangan kondisi jalan Pemkab tersebut.

Pasalnya, sebelum pembenahan Kudus - Pati dibenahi dipastikan jalan Pemkab tersebut akan tetap digunakan untuk jalur alternatif. Kondisi seperti itu tidak dapat dielakkan karena Kudus - Pati merupakan akses utama Pantura Timur antara Semarang - Surabaya.

"Meskipun sebagian arus sudah dialihkan ke jalur selatan, namun setiap hari tetap masih banyak pengguna jalan yang tetap menggunakan ruas Kudus - Pati," ujarnya.

Arumdyah mengatakan, sebenarnya, tidak hanya kerusakan jalan saja yang dikhawatirkan terkait penggunaan jalan Pemkab untuk jalur alternatif. Namun, yang perlu diwaspadai sebenarnya justru potensi kecelakaan lalu lintas di tempat itu.

Pesoalannya lebar sarana penghubung yang ada memang tidak cukup untuk menampung kendaraan besar. Bila berpapasan, terutama pada jalan yang sempit dipastikan salah satu pihak harus mundur terlebih dahulu.

Kepala Operasional Bus Nusantara, Sony Wibowo, menyatakan beberapa kali pihaknya mengalami hal seperti itu di sekitar Colo. Bila kendaraan besar saling berhadap-hadapan, salah satunya memang harus mengalah. Bila tidak, dipastikan kendaraan tidak akan dapat lewat semuanya.

"Harus mundur dulu untuk mencari jalan yang lebih lebar sebelum berpapasan dengan kendaraan di depannya," paparnya.

( Anton WH / CN26 / JBSM )

sumber:http://suaramerdeka.com

Air Mineral Berasa "Aneh", Pembeli Protes

Kudus, CyberNews. Pemilik kios rokok di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kuslan (34) mengaku menemukan minuman mineral dalam kemasan gelas plastik merek ternama yang rasanya tidak seperti biasanya.

Setelah sempat dijual secara eceran, dia beberapa kali diprotes pembelinya karena dianggap tidak mempunyai rasa seperti yang lainnya. Karena penasaran, dia juga mencoba sendiri satu gelas minuman mineral jenis tersebut.

Menurutnya, rasanya mirip-mirip ada unsur sabun atau bahan sejenisnya. "Saya beberapa kali diprotes pembeli," ungkapnya, kepada sejumlah awak media, Jumat (21/1)

Kondisi tersebut memang baru pertama kali dialaminya. Sebelumnya, saat membeli minuman merek sejenis juga tidak pernah ada masalah. "Saya sudah berjualan selama 10 tahun dan tidak pernah menemukan hal seperti ini," ujarnya.

Mengenai asal muasal barang tersebut, dia mengaku membelinya di pasar Karanganyar, Demak. Soal harganya juga tidak sama seperti sebelumnya yakni Rp 18 ribu sekardusnya. "Sudah saya beritahukan hal itu kepada agennya, dan katanya akan diganti," lanjutnya.

Beberapa awak media yang mendatangi lokasi juga mencoba minuman dalam kemasan gelas plastik tersebut. Semuanya menyatakan rasanya memang berbeda. Sebagai pembanding, juga dicoba minuman merek sejenis tetapi dibeli dari toko lainnya.

"Rasanya lain, yang dibeli dari toko (pembanding - red), rasa air juga seperti biasanya. Sedangkan yang dicoba sebelumnya tetap agak lain rasanya," tandas salah seorang peliput, Indra.

Para peliput akhirnya berinisiatif untuk meminta konfirmasi kepada agen yang ada di Tenggeles, Mejobo. Hanya saja, para pewarta tidak mendapatkan konfirmasi seperti yang diharapkan. Salah seorang yang mengaku sebagai pihak yang bertanggungjawab, mengaku sebagai Hamdi, dengan ketus menyatakan pihaknya tidak mempunyai kewenangan untuk memberikan komentar.

Sedangkan saat ditanya kepada siapa wartawan meminta konfirmasi, dia mengatakan semuanya sedang tugas luar. "Kalau untuk itu tanya saja pada pabriknya di Klaten," ujarnya.

( Anton WH / CN27 / JBSM )


sumber:http://suaramerdeka.com

Harga Gula Tumbu Mencekik, Pengusaha Kecap Nyaris Gulung Tikar


Kudus, CyberNews. Harga gula tumbu yang semakin mencekik membuat sejumlah pengusaha kecap di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus mengeluh dan bahkan sebagian ada yang nyaris gulung tikar, bahkan sisanya beralih profesi. Ini dikarenkan karena biaya operasinal juga ikut naik.

Guna menutup kerugian, para pegusaha kecap memilih strategi dengan menghabiskan stok produksi bulan lalu. Seperti yang dialami Noor Aidi, Suliyati, dan Siswati. Ketiga warga Desa Temulus sejak lama menggantungkan hidupnya dari usaha pembuatan kecap.

Diakui mereka, kondisi pasar yang lesu ini sebenarnya sudah dirasa sejak Agustus 2010 lalu. "Pemicu awalnya, saat itu harga gula tumbu yang merupakan bahan dasar pembuatan kecap mulai melambung," kata Noor Aidi.

Waktu itu, harga gula tumbu perkilogramnya tercatat sekitar Rp 5.300, kemudian bulan November kembali naik lagi menjadi Rp 5.800 per kilogram, dan puncaknya Januari 2011 ini sudah mencapai Rp 7.300 per kilogram. "Tentunya hal ini cukup memberatkan, karena harga kecap dipasaran tidak bisa naik. Jelas hal ini dikeluhakan oleh konsumen lantaran harganya terlalu mahal," katanya.

Noor Aidi menjelaskan, saat ini haraga kecap per botol hanya Rp 6.500, jika dinaikan bisa mendekati angka Rp 8.000 per botol. "Bagi konsumen harga tersebut sudah tidak normal, karena sangat mahal. Sebab, sasaran kami adalah menengah ke bawah," terangnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut dan harga gula tumbu belum juga turun, dikhawatirkan usaha produksi kecap bisa langsung gulung tikar. Bagaimanapun juga kami tetap menunggu turunnya harga gula tumbu, idealnya kisaran Rp 5.500 per kilogram. Jika tidak maka untuk sementara usaha kami tutup," lanjut Noor.

Rempah-Rempah Naik

Hal senada dilontarkan Suliyati. Menurut pengusaha kecap ini, tidak hanya soal kenaikan harga gula tumbu saja yang menjadi masalah. Di sisi lain, bahan lain yang biasa digunakan sebagai penunjang produksi kecap juga ikut-ikutan naik, seperti rempah-rempah.

"Terutama bawang putih, yang sebelumnya per kilogram Rp 8.500 sekarang menjadi Rp 22.000," kata Suliyati.

Tentunya, hal itu membuat dirinya kelimpungan, karena biaya produksi dengan pemasukan tidak seimbang. "Untuk sementara kami hentikan produksi lain menunggu sejumlah harga bahan baku kembali normal," imbuhnya.

( Ruli Aditio / CN27 / JBSM )


sumber:http://suaramerdeka.com

Nikahi Gadis, Seorang Kakek Nyaris Dihakimi Warga

Kudus, CyberNews. Subagiyo (51), penduduk Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Jumat (14/1) pagi nyaris dihakimi warga saat mendatangi Desa Kirig, Kecamatan Mejobo. Warga yang berjumlah sekitar 30 orang bahkan sempat mengaraknya ke balai desa setempat.

Hanya saja, sebelum kondisi bertambah parah, kakek tersebut diamankan oleh polisi ke Mapolsek Mejobo. Sumber yang dihimpun Suara Merdeka CyberNews dari tempat kejadian perkara menyebutkan, kejadian tersebut bermula dari pernikahan Subagyo dengan salah seorang gadis desa setempat, bernama Istiqomah (22).

Padahal, sang kakek diketahui sudah mempunyai anak istri. Pertengahan tahun yang lalu, persoalan tersebut sedianya akan diselesaikan di tingkat desa. Hanya saja, saat diundang ke balai desa Subagiyo tidak datang. Setelah itu, Istiqomah juga meninggalkan rumah saudaranya di Kirig dan mengikuti Subagiyo. Dia baru pulang empat hari yang lalu dan sudah membawa seorang bayi hasil hubungan keduanya.

''Subagiyo ke Kirig untuk menjenguk Istiqomah dan bayinya itu,'' kata Kapolres Kudus, Ajun Komisaris Besar Polisi R Slamet Santoso melalui Kapolsek Mejobo, Ajun Komisaris Polisi Dwi Jati, Jumat (14/1).

Rupanya, kedatangan kakek tersebut ke Kirig membuat warga kesal. Pasalnya, sejauh ini mereka masih mempersoalkan status perkawinan dengan Istiqomah. Sekitar pukul 07.00, puluhan warga menggelandang Subagiyo ke balai desa. ''Kalau tidak dibawa ke Mapolsek mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,'' paparnya.

Klarifikasi Keterangan

Hingga berita ini diturunkan, aparat masih mengklarifikasi keterangan dari sejumlah pihak terkait masalah itu. Selain mendengar keterangan dari Subagiyo, mereka juga melakukan hal serupa dengan kepala desa dan saksi-saksi lainnya. ''Kami masih akan mengklarifikasinya,'' jelasnya.

Pengakuan sementara dari Subagiyo kepada petugas Polsek Mejobo, dia sudah nikah siri dengan Istiqomah. Hal tersebut dilakukan tahun lalu, hingga saat ini telah memiliki bayi berusia 35 hari. Kedatangannya ke Kirig, kata kapolsek menirukan pengakuan Subagiyo, karena ingin menemui anak istrinya.

''Sekali lagi, masih akan dimintai keterangan dari semua pihak terlebih dahulu untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya. Kami juga akan mengklarifikasi dengan pihak terkait mengenai pengakuan nikah siri dari Subagiyo,'' imbuhnya.

( Anton WH / CN27 / JBSM )


sumber:http://suaramerdeka.com

Unik, Ayam ini Tidak Bersayap


Kudus, CyberNews. Warga RT VI RW III Dukuh Gandongan, Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus, dikejutkan dengan adanya ayam betina yang tidak memiliki sayap.

Namun ayam milik H Karno, warga desa setempat itu, dapat hidup normal dan menghasilkan telur. Ayam tersebut sering menjadi tontonan warga setempat dan desa sekitar.

Menurut Nawawi, salah satu putra H Karno, ayam itu berasal dari indukan ayam kampung biasa yang sama-sama dipelihara di kandang pekarangan samping rumahnya. "Saya justru tahu dari sejumlah warga kalau ayam peliharaan dari ayah saya ada yang unik," katanya. Sebab selama ini yang sehari-hari mengurus ayam itu bukan dirinya, melainkan ayahnya.

"Awalnya saya tidak mengetahui jika salah satu ayam kampung betina milik ayah saya unik tidak mempunyai sayap, namun bisa menghasilkan telur," jelasnya.

Nawawi menambahkan, pernah suatu ketika ia tanpa sengaja melihat ayam tersebut tengkurap namun kesulitan bangun lagi. "Hanya saja tidak saya perhatikan secara menyeluruh, namun setelah diberi tahu oleh tetangga dan sejumlah warga lainnya baru tahu kalau ayam tersebut tidak mempunyai sayap," katanya.

Disinggung apakah ayam ini nantinya akan dijual terkait dengan keunikannya, Nawawi hanya mengerutkan dahinya. Ia mengaku tidak akan menjualnya dengan alasan masih ingin memeliharanya. Terlebih ayam tersebut mempunyai keunikan yang menurutnya menjadi kebanggan tersendiri.

"Saya tidak akan menjualnya, karena sayang ayam tersebut masih sehat dan masih produktif menghasilkan telur," terangnya.


sumber:http://suaramerdeka.com

Ratusan Hektare Padi Siap Panen Diserang Wereng

Kudus, CyberNews. Ratusan hektare lahan tanaman padi di tiga kecamatan yakni Undaan, Jekulo dan Mejobo menjelang panen panen musim tanam I 2010 - 2011 diserang wereng. Meskipun tidak sampai mengakibatkan puso, pengganggu tanaman tersebut mengakibatkan penurunan hasil pertanian.

Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kudus, Hadi Sucahyono mengatakan, serangan wereng di ketiga wilayah tersebut berdasarkan pantauannya mulai dari ringan dan sedang serta berat. "Beberapa lahan pertanian sudah panen, beberapa lagi sekitar 10 hari mendatang," katanya.

Untuk Kecamatan Undaan, serangan hama dengan kerugian ringan sekitar 450 - 500 hektare. Lokasinya berada di sejumlah desa seperti Kalirejo, Lambangan, Berugenjang, Kutuk, Glagahwaru, Medini, Undaan Tengah dan Undaan Lor. Sementara di Kecamatan Jekulo, tingkat serangan seperti itu seluas 200 hektare.

Di Mejobo sendiri, berdasarkan data yang dihimpun KTNA mencapai 200 - 250 hektare.Adapun untuk tingat serangan berat, dijumpai di Kutuk, Berugenjang dan Lambangan, masuk Kecamatan Undaan. Pada serangan yang berat, pengurangan produksi dapat mencapai 60 persen.

Jadi, panen yang dapat dinikmati petani hanya mencapai 40 persen saja. "Hal tersebut dihitung dengan perkiraan hasil panen setiap anhektare mencapai 8 - 10 ton gabah kering panen," jelasnya.

Mengenai antisipasi yang dilakukan, sebagian petani menggunakan pestisida untuk mengontrol pengganggu tanaman tersebut. Hingga saat ini, usaha seperti itu masih dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padinya. "Kami berharap agar serangan wereng tidak meluas," paparnya.

Terpisah, Kepada Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kudus, Budi Santoso, ketika dikonfirmasi menyatakan pihaknya telah mendapatkan bantuan pestisida sebanyak 60 dus atau sekitar 600 liter dari Pemprov. "Bantuan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk membantu menghambat serangan hama wereng pada kawasan pertanian yang membutuhkan," katanya.



sumber:http://suaramerdeka.com

Jalur Kudus-Pati Tersendat 20 Kilometer

Kudus, CyberNews. Ruas Pantura Timur masuk Kudus-Pati, Minggu (9/1) sore hingga Senin (10/1) siang ini tersendat. Ratusan kendaraan berat terjebak kemacetan karena tujuh truk mengalami patah as dalam waktu yang berbeda di tempat yang hampir sama, yakni Jalan Kudus-Pati.

Berdasarkan pantauan CyberNews, hingga pukul 12.15 ketersendatan terlihat mulai Perempatan Jepang (Mejobo) hingga masuk ke Pati, sekitar 20 kilometer. Truk terakhir yang mengalami patah as terlihat di KM 8, sekitar pasar Bareng, Jekulo. Evakuasi truk yang rusak cukup memakan waktu. Pasalnya, sebagian pengemudi truk enggan menarik bila tidak sama muatan yang dibawanya. "Tetapi, kami memberi penjelasan kepada mereka agar dapat saling bekerjasama," kata perwira Satlantas Polres, Ipda Wasito.

Sekitar pukul 11.30 keruwetan sedikit teratasi. Hal itu terjadi setelah truk yang terhenti akibat patah as dapat ditarik. Hingga berita ini diturunkan, belasan personel Polres yang dipimpin langsung oleh Kapolres, AKBP R Slamet Santoso dan Kasatlantas, AKP Umbar Wijaya, berusaha mengatur arus lalu lintas di tempat tersebut.

Menurut Kapolres, pihaknya setiap hari menerjunkan personel sebanyak 18 orang untuk mengantisipasi kerusakan jalan di tempat itu. Tidak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan tiga pos pantau yakni di Karawang, Bareng dan Gondoharum. "Untuk truk derek disiapkan di Karawang," imbuhnya.

Selain personel dan peralatan, pihaknya juga mengantisipasi keamanan terkait kondisi seperti itu. "Hal ini kami lakukan hingga perbaikan jalan selesai dilakukan," paparnya.

( Anton WH / CN14 )



sumber:http://suaramerdeka.com

Pengemudi Padati Jalur Alternatif

Pati, CyberNews. Rasa frustrasi pengemudi, karena kerusakan Jalan Raya Kudus-Pati kian tak terbendung. Untuk menghindari anteran panjang kendaraan, sebagian pengemudi mencari jalan tembus kendati harus melewati kampung.

Bukan hanya mobil pribadi yang relatif kecil, truk bermuatan juga kerap memilih jalur kampung untuk menghindari kemacetan. Sampai kemarin, antrean kendaraan dari arah timur (Surabaya) mengular hingga mencapai Jalan Raya Pati-Kudus km 7, tepatnya di kawasan Gunung Bedah, Pati.

Dari pantauan Suara Merdeka, jalan kampung yang belakangan menjadi incaran pengemudi untuk menghindari kemacetan, yakni masuk Desa Bumirejo, dan Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo. Kendaraan menerobos dua kampung itu, dari halte Kaliampo.

Jalan dua desa itu tembus ke Desa Gondoharum, Pladen, dan Bulung Cangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus. Dari Bulungcangkring kebanyakan kendaraan menuju jalur alternatif selatan Pati-Kudus melalui Desa Sadang, Hadiwarno, Kesambi, Kirig, dan masuk Jalan Lingkar Kudus, turut Desa Jepang, Kecamatan Mejobo.

Setelah sepekan lebih dilewati mobil pribadi dan truk, sebagian besar kondisi ruas jalan kampung itu rusak. Kendati demikian, warga di sejumlah desa tersebut tampaknya cukup menyadari lantaran kondisi kemacetan di jalan Pantura.

Bahkan, warga dengan rela memasang papan tulisan penunjuk jalan ke arah Kudus atau Semarang untuk membantu pengemudi yang asing dengan kawasan tersebut. Sedikitnya ada empat papan penunjuk jalan yang terpasang di persimpangan Desa Jambean Kidul (Pati), Gondoharum, dan Pladen (Kudus).

"Warga sering ditanyai pengemudi yang menuju Kudus atau Semarang. Jadi dipasang tulisan penunjuk jalan untuk membantu mereka agar tidak bingung dan sering tanya," ujar warga Desa Jambean Kidul Kamelan, Kamis (7/1).

Menurut dia, kepadatan di jalan kampung tidak bisa dipastikan. Ketika ada sejumlah mobil yang memotong jalan lewat kampung, biasanya diikuti puluhan lainnya. “Biasanya yang lewat sini ya orang-orang yang paham dengan rute jalan
kampung menuju Kudus. Tetapi ada juga yang berspekulasi dengan tanya pada orang di pinggir jalan,” katanya.

Sementara jalan alternatif selatan Pati-Kudus, kondisinya juga mulai rusak. Sejumlah ruas jalan berlubang dan bergelombang lantaran tidak kuat menahan beban berat dari kendaraan yang melintas.

Tidak hanya mobil kecil dan truk jenis colt diesel yang melintas, tronton dan trailer sarat muatan, serta bus juga banyak ditemui. Kondisi itu menjadikan pemandangan berbeda di jalur yang biasanya sepi. Arus lalu lintas di jalur dengan rute
Gabus-Kayen-Cengkalsewu-Poncomulyo-Bulungcangkring itu, tampak padat.

Sesekali lalu lintas tersendat lantaran menunggu dua truk dari arah berlawanan simpangan. Sempitnya ruas jalan menjadikan pertemuan dua kendaraan dari arah berbeda sering menimbulkan antrean panjang kendaraan di belakangnya.

Sopir truk Suyanto mengaku, lebih memilih jalan alternatif itu untuk menghindari kemacetan di jalan pantura. Dia hampir setiap hari berangkat ke Blora dan Bojonegoro untuk mengantar muatan.

"Saya kapok lewat pantura karena pernah terjebak macet hingga lima jam. Kalau lewat sini (jalan alternatif-Red) kan lebih lancar meskipun agar jauh,” kata pria asal Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus itu saat istirahat di Dukuh Poncomulyo, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo.

Setidaknya ada empat titik kerusakan di Jalan Kayen-Bulungcangkring. Penanganan darurat tampak dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pati dengan menambal lubang jalan dengan material pasir dan batu. “Sudah dua hari ini kami menambal dan akan terus dilakukan,” kata petugas lapangan Bidang Bina Marga DPU Pati Agus Prayitno yang mengaku telah menurunkan material tiga dump truk.

Siapkan Antisipasi

Sementara itu, Kapolres Pati, AKBP Bernard Sibarani SIK MSi mengakui telah mempersiapkan langkah antisipasi. Utamanya, pengawalan terhadap kendaraan pengangkut barang-barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat.

Di antaranya, pengiriman gas elpiji ke stasiun pengisisian bahan bakar elpiji. (SPBBE). Di Pati, stasiun terdapat di dua lokasi masing-masing di Desa Pegandan, Kecamatan Margorejo dan satu lagi di Desa Ngulakan, Kecamatan Wedarijaksa.

Karena itu, pada pengelola kedua SPBE itu jika hendak menerima pengiriman elpiji dari tanki pengangkut agar sehari sebelumnya memberi tahu. Dengan demikian, dari jajaran kepolisian bisa mengawal untuk menghindari macet di jalan.

Sebab, jika tanki pengirim elpiji terjebak macet berjam-jam kedatangannya ke SPBBE pasti terlambat. Padahal stok sudah menipis, terutama untuk tabung gas elpiji tiga kilogram yang sangat dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai keterlambatan ini berdampak pada terjadinya kenaikan harga di tingkat pengecer.


sumber:http://suaramerdeka.com

Penunjuk Jalur Alternatif Dipertegas

Pati, CyberNews. Kerusakan Jalan Raya Kudus-Pati yang kian parah membuat pengemudi mengincar jalur alternatif. Alasan itu membuat jajaran Satlantas Polres dan Dishubkominfo Pati mempertegas penunjuk jalan menuju jalur alternatif.

Setidaknya ada dua jalur alternatif dari Pati menuju Kudus yang bisa menjadi pilihan pengemudi untuk menghindari kerusakan Jalan Raya Kudus-Pati. Harapannya, tidak terjebak antrean panjang kendaraan dan bisa menpersingkat waktu tempuh.

Jalur alternatif utara melalui Gembong menuju Kandang Mas dan tembus ke perempatan Krawang, Kudus. Adapun pilihan jalur lainnya, melalui Gabus-Kayen-Bulungcangkring-Mejobo (Kudus).

Jalur yang pertama dari pertigaan Samsat, Jalan P Sudirman ke utara menuju kawasan Stadion Joyokusumo dan memasuki pertigaan Ngagul (Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo) ke arah kiri (menuju Gembong). Sementara untuk jalur alternatif kedua, dari Alun-alun Pati ke selatan melewati Gabus dan Kayen menuju ke arah Bulungcakring (Kudus).

Untuk jalur terakhir, dari Bulungcangkring bisa tembus ke perempatan Krawang (Jekulo, Kudus) atau ke arah Jalan Lingkar Kudus di Mejobo.

Kondisi lalu lintas yang selalu krodit di jalur pantura itu akibat rusaknya sebagian besar ruas jalan menjadikan pengendara frustasi. Tidak jarang mereka yang melaju dari timur (Surabaya) menuju Kudus kembali ke Pati lantaran tidak sabar menunggu antrean panjang untuk lewat.

Para pengemudi yang rata-rata mengendarai mobil pribadi itu, menanyakan petugas di Pati soal jalur alternatif. Meskipun rambu pendahulu penunjuk jalan (RPPJ) terpampang di sejumlah titik, namun mereka yang tidak terbiasa melewati jalur alternatif tetap saja kebingungan.

“Kami bersama Satlantas telah berkoordinasi untuk mempertegas panduan menuju jalur alternatif. Harapannya bisa membantu pengemudi untuk menghindari Jalan Raya Pati-Kudus yang rusak parah,” ujar Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Jalan Dishubkominfo Eko Budi Santoso SSiT MM, Selasa (4/1).

Sedikitnya ada tiga titik penunjuk jalan alternatif tidak permanen yang dipasang petugas. Satu di antaranya yang ditempatkan di persimpangan Alun-alun Pati sebelah selatan menujukkan arah ke jalur alternatif selatan. Adapun dua lainnya ditempatkan di pertigaan Samsat (Jalan P Sudirman) dan perempatan dekat Pengadilan Negeri (PN) Pati yang menunjukkan arah ke jalur alternatif utara.

Penunjuk jalur alternatif terbaca jelas dari dua arah (barat dan timur). Itu untuk memberikan informasi pengemudi dari arah timur (Surabaya) dan barat (Semarang). Harapannya, bukan hanya memberi informasi bagi pengendara yang baru masuk Pati dari timur tetapi juga mereka yang kembali ke Pati setelah melewati Jalan Raya Pati-Kudus untuk mencari jalur alternatif.

Rembang Berlubang

Sementara akibat hujan terus menguyur Kabupaten Rembang, beberapa titik jalan di ruas jalur pantura mulai rusak dan berlubang. Lubang-lubang itu mulai dikeluhkan pengguna jalan, khususnya pengendara motor, karena membahayakan. Beberapa titik jalan yang mulai berlubang, antara lain di jalur Rembang-Kaliori dan paling parah pada jalur Sluke-Kragan. Sementara itu, jalan pantura di dalam Kota Rembang, kendati baru selesai diperbaiki, sudah ada beberapa lubang yang lebar dan dalam sehingga membahayakan pengguna jalan.

Ahmad Riyadi (36), pengguna jalan asal Kaliori, menuturkan, kerusakan mulai terjadi sejak daerahnya sering diguyur hujan. Kebetulan, dia pedagang asongan sehingga tahu persis kondisi jalan di daerahnya, karena setiap hari harus melewati jalur pantura.

Ahmad Riyadi menyebutkan, selain lubang-lubang yang membahayakan pengguna jalan, kondisi jalur pantura jika malam juga tidak aman. Sebab, di sepanjang jalur sibuk tersebut sangat minim penerangan. Tak jarang jika malam hari dan kondisi hujan, para pengguna jalan harus ekstrahati-hati.

Tak beda dari Hardi (40), pengemudi angkutan umum jurusan Sarang-Tayu, juga mengakui, mulai ditemukan lubang jalan pada beberapa titik. Menurutnya, hal tersebut memang biasa terjadi setiap memasuki musim hujan. Dia menandaskan, kerusakan terparah di jalur Sluke-Kragan. Sekarang sedang diperbaiki, namun belum selesai, sehingga masih mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Kemudian di dalam Kota Rembang, sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro - Jalan Gajahmada, juga mulai ditemukan lubang jalan pada beberapa titik. Beberapa warga lain berkomentar, kerusakan jalan di Rembang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu hujan lebat yang mengguyur sehingga membuat tanah semakin turun dan retaklah jalan tersebut. Selain itu, berat beban jalan (kendaraan) yang melebihi standar jalan tersebut juga membuat jalan rusak mudah rusak.

Kerusakan tersebut sangat tidak diinginkan oleh pengguna jalan. Karena itu, masyarakat berharap kepada pemerintah, agar segera memperbaiki jalan yang rusak tersebut. Jika tidak segera diperbaiki, selain mengganggu kelancaran arus lalu lintas, juga bisa menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

( Moch Noor Efendi , Djamal AG / CN16 )


sumber:http://suaramerdeka.com

Awal Tahun, Harga Ternak Anjlok


Kudus, CyberNews. Awal tahun bagi sejumlah peternak di sentra pengembangan sapi di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo Kudus menjadi hal yang tidak mengenakkan, karena harga jual sapi awal tahun ini justru anjlok, dan hal ini membuat sejumlah peternak merugi.

Ketua kelompok ternak sapi Sidorejo, Desa Temulus, Masiran hari ini mengatakan, hal ini sudah terjadi sejak menjelang waktu tahun dan puncaknya justru terjadi Januari. "Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya rawan terkena serangan penyakit dikarenakan cuaca, selain itu penawaran harga saat dilakukan lelang," katanya.

Masiran menjelaskan akibat banyaknya persoalan mengakibatkan harga sapi jatuh hingga 20 persen menjadi lima juta per ekor untuk jenis sapi brahmana. "Padahal sebelumnya bisa mencapai tujuh hingga sepuluh juta per ekor," ujarnya.

Pihaknya mengaku hinga saat ini belum menemukan solusi yang tepat untuk menekan kerugian. "Sejumlah konsumen yang akan membeli sudah melakukan penawaran jauh-jauh harus dengan harga dibawah standar akibatnya kami hanya bisa membatasi sejumlah pembelian," katanya.

( Ruli Aditio / CN14 )



sumber:http://suaramerdeka.com

Secang Salah Satu Kecamatan Terpenting Di Kabupaten Magelang


Secang Terletak di sebelah utara kabupaten magelang,secang menjadi penting karena posisi nya yang menjadi jalur utama propinsi.Secang juga mempunyai terminal sendiri.jalur ke utara dari secang menuju ke semarang,jalur ke barat dari secang menuju ke temanggung.dan jalur ke selatan dari secang menuju magelang dan yogyakarta

Pabrik Kayu Terbakar, 1000 Karyawan Terancam PHK


Secang, CyberNews. Kebakaran hebat melanda pabrik pengolah kayu PT Surya Mandiri di Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Rabu pagi (5/1). Sejumlah fasilitas pabrik eksportir kayu barecore tersebut hangus.

Menurut keterangan di yang dikumpulkan di lokasi kejadian, kebakaran tersebut bermula dari bocornya mesin oven nomor dua. Sejumlah karyawan sudah berusaha memadamkannya namun gagal. Api justru semakin membesar dan menyambar tumpukan kayu kering siap olah.

“Kami sudah berusaha memadamkannya, namun api tetap makin membesar. Kami kewalahan karena kayu kayu kering sangat mudah terbakar,” kata Joko, pengawas pabrik PT Surya Mandiri.

Menurut Joko, kebakaran pertama kali terdeteksi sekitar pukul 08.15 WIB. Dari tujuh oven yang ada, oven yang terbakar adalah yang kedua. Para karyawan pabrik kemudian meminta bantuan mobil pemadam kebakaran ke Pemkab Magelang.

Namun, karena lokasi pabrik berada di perbatasan Magelang-Temanggung, mobil pemadam kebakaran baru datang sekitar satu jam dari kejadian. Hal ini membuat kobaran api sudah terlanjur membesar menjadi semakin sulit dipadamkan.

Joko menuturkan, selain kayu kering, api semakin besar juga karena tiupan angin yang cukup kencang. Besarnya kobaran api tersebut membuat sebagian pagar tembok pabrik di sebelah barat dan timur ambruk.

Terancam PHK

Kebakaran ini memang tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sekitar 1000 karyawan pabrik terancam menganggur karena kebakaran ini menghancurkan sejumlah peralatan dan mesin produksi. Para karyawan yang ketakutan berkumpul di pinggir Jalan Raya Magelang-Semarang.

Sekdes Krincing, Soedijanto mengatakan, kebakaran bisa dilihat dari halaman balai desa karena kebetulan pabrik yang terbakar di bagian belakang dan hanya berjarak sekitar 50 meter dari Balai Desa Krincing.

"Saat api mulai membakar Pak Kades langsung menelpon pihak pabrik, namun tidak ada jawaban. Pak Kades kemudian menerobos masuk ke dalam pabrik lewat depan untuk memberitahu kebakaran tersebut," kata dia.

Menurut Kapolsek Secang, AKP Ngadisa, kebakaran ini bukan yang pertama kali terjadi, tetapi sebelumnya api lebih mudah dijinakkan. Sebab, biasanya tumpukan kayu di dalam pabrik tidak begitu banyak.

Sementara saat kebakaran pagi tadi, tumpukan kayu begitu banyak. Sehingga, mobil pemadam kebakaran kesulitan masuk ke titik kebakaran. “Ini kebakaran paling besar,” kata dia.

AKP Ngadisa mengaku, pernah menyarankan pemilik pabrik untuk membuat akses agar mobil pemadam kebakaran bisa masuk ke dalam lokasi pabrik. Pertimbangannya, kata dia, pabrik pengolah kayu seperti PT Surya Mandiri rawan kebakaran.

Untuk diketahui, tiga bulan lalu tim Labfor Polda Jateng memeriksa kondisi pabrik PT Surya Mandiri. Tim tersebut menyarankan agar tempat mesin oven dipindah atau diperbaiki karena tanah di lokasi tersebut labil.

( MH Habib Shaleh / CN27 )

sumber:http://suaramerdeka.com

Empat Bupati Minta Jalur Tengah Dilebarkan

Banjarnegara, CyberNews. Jalur nasional yang melalui wilayah Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Wonosobo hingga Temanggung atau dikenal pula dengan jalur tengah, diminta untuk segera diperbaiki.

"Saya bersama para Bupati yang lain di jalur tersebut, yakni Banyumas, Wonosobo dan Temanggung, sepakat menandatangani surat bersama untuk dikirimkan ke Kementerian PU. Isinya antara lain, meminta jalur tengah ini diperhatikan. Maksudnya selain ditingkatkan kualitas jalannya, juga dilebarkan dari kondisi saat ini," kata Bupati Banjarnegara, Djasri.

Dia menambahkan, jalur tengah juga termasuk jalur yang ramai saat ini. Namun kondisinya sempit dan perlu untuk ditingkatkan kualitas jalannya. Kondisi lalu lintas yang ramai namun tidak didukung sarana jalan itu, membuat kecelakaan kerap terjadi.

"Selain alasan keamanan, empat daerah yang ada di jalur itu juga potensial dari sisi ekonomi. Bila jalannya mendukung, maka perkembangan ekonominya juga akan ikut terpacu. Inginnya tidak hanya jalur pantura atau selatan saja yang terus dikembangkan. Jalur tengah juga perlu disentuh," katanya.

Upaya pelebaran pada jalur itu, kata Bupati, memang sudah dimulai beberapa tahun terakhir. Seperti di jalur Mandiraja Purwonegoro. Namun baru pada beberapa titik dan panjangnya juga terhitung masih belum optimal. "Kami ingin supaya pembangunan itu bisa berlanjut dari Banyumas hingga Secang," katanya.

( M Syarif SW / CN14 )

sumber:http://suaramerdeka.com

Asyik Bersihkan Sawah, Petani di Gunung Sumbing Tertimpa Longsor

Magelang - Sedang asyik membersihkan aliran sawah, Aisyah (45) tiba-tiba tertimpa longsor dari tebing setinggi 25 meter di kaki Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah. Warga desa berupaya menyelamatkan nyawanya, namun gagal.

Peristiwa ini terjadi di Dusun Sentosa, Desa Pasangsari, Kecamatan Windusari, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (6/1/2011). Sebelumnya, Aisyah datang ke sawah untuk mengantar makanan kepada buruh taninya, Nasir (45).

"Setiap pagi, ibu Aisyah datang ke sawah mengirimi makanan untuk saya yang bekerja sebagai buruh yang menggarap sawahnya," tegas Nasir, kepada detikcom di lokasi kejadian.

Setelah sampai di sawah, makanan ditaruh di gubuk. Aisyah lantas membersihkan beberapa bagian saluran air sawah yang sempat tersendat. Sementara, Nasir mencangkul sawah milik majikannya.

Namun tiba-tiba, terdengar suara gemuruh sangat keras datang dari atas tebing. Ternyata, tebing di sekitar sawah runtuh dan menimpa korban Aisyah yang sedang membersihkan saluran.

"Saya panik bercampur kaget. Soalnya saya sedang sibuk mencangkul, mau lari tetapi saya dalam posisi sulit dan tidak bisa menyelamatkan Bu Aisyah," tegas Nasir dengan wajah sedih.

Nasir kemudian berteriak meminta pertolongan. Warga yang datang berbondong-bondong berusaha mengevakuasi korban secara manual dengan menggunakan cangkul dan perlatan seadanya. Akibatnya korban Aisyah yang sudah terkubur hampir selama dua jam di kedalaman dua meter itu tidak bisa terselamatkan oleh warga.

"Posisi saat tewas ibu Aisyah tengkurap dan sudah tidak bernafas lagi," tegas Nasir.

Dua jam kemudian, baru jasad korban dibawa ke rumah duka, disambut isak tangis keluarga. Bahkan dua anaknya sempat jatuh pingsan mendapati ibunya tewas.

Kepala Desa Pasangsari, Jamaludin kepada detikcom menyatakan kawasan perbukitan Gunung Sumbing itu memang rawan longsor. Apalagi, beberapa tebing yang ada dalam kondisi mengkhawatirkan ditambah curah hujan yang cukup deras.

"Kondisi tanah labil dan gembur. Sebelumnya di sana dikabarkan pernah juga terjadi longsor. Kita imbau masyarakat supaya berhati-hati," tegas Jamaludin.

Kapolsek Windusari, AKP Jemiyanto yang datang ke lokasi kejadian kepada detikcom menyatakan kejadian tersebut untuk sementara murni kecelakaan. "Apalagi di atas juga merupakan area pemakaman umum warga sehingga kondisi tanahnya gembur dan membahayakan warga sekitar," tegas Jemiyanto.

(fay/fay)
sumber:http://www.detiknews.com

Petani Magelang Tewas Tertimpa Tanah Longsor

MAGELANG--MICOM: Seorang petani di Dusun Sentosa, Desa Pasangsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Asiyah, 45, Kamis (6/1), tewas tertimbun tanah longsor sebuah tebing setinggi 25 meter.

Seorang saksi mata, Nasir, mengatakan, saat kejadian cuaca cerah. Namun, tanah tebing yang longsor meluncur deras hingga menghantam korban yang sedang membungkuk untuk membersihkan saluran air.

"Korban tewas seketika. Tebing itu sebelumnya juga sempat ambrol tetapi hanya sedikit," katanya.

Peristiwa tersebut berawal saat korban datang dari rumahnya yang berjarak 1,5 kilometer untuk mengirim makanan ke sawah. Korban tidak mengira kejadian tersebut bakal terjadi.

Apalagi, ambrolnya tebing terjadi dengan cepat. "Saya juga sedang sibuk mencangkul jadi tidak tahu," kata Nasir.

Warga yang mendengar teriakan Nasir kemudian berbondong-bondong untuk mencari korban yang sudah terkubur hampir setengah jam pada kedalaman dua meter. "Tubuhnya tengkurap saat diangkat dan tidak bernafas lagi," katanya.

Setelah berhasil diangkat, korban kemudian dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. Kapolsek Windusari Ajun Komisaris Jemiyanto yang datang ke lokasi mengatakan, kejadian tersebut sebagai kecelakaan murni. (Ant/OL-5)

(sumber:http://www.mediaindonesia.com)

Kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang

  1. Mungkid
  2. Muntilan
  3. Grabag
  4. Salam
  5. Salaman
  6. Ngluwar
  7. Tempuran
  8. Srumbung
  9. Borobudur
  10. Ngablak
  11. Bandongan
  12. Sawangan
  13. Secang
  14. Tegalrejo
  15. Mertoyudan
  16. Dukun
  17. Candimulyo
  18. Windusari
  19. Kajoran
  20. Kaliangkrik
  21. Pakis

Curug Silawe Kajoran


Air terjun yang terletak di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian lebih kurang 50 m terletak di Desa Sutopati Kecamatan Kajoran. Selain dapat menikmati sejuknya hawa pegunungan juga dapat disaksikan panorama indah berupa hamparan hutan pinus.

Pasar Kajoran Sebagai Pusat Perekonomian Kecamatan Kajoran

Pasar Kajoran berada di sebelah timur jalan raya dari kaliangkrik ke arah krasak.pasar ini juga berada dekat per 4 an jalan.Pasar Kajoran menjadi pasar terbesar di kecamatan Kajoran

Tiga situs candi Hindu di Magelang terancam lahar dingin



Magelang - Tiga situs candi Hindu bersejarah sejak abad 8-10 M, terancam terjangan banjir lahar dingin Merapi di Magelang. Ketiga candi ini berdekatan dengan Kali Pabelan dan Kali Tlising, yang merupakan jalur banjir lahar dingin.

Ketiga candi itu adalah Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendhem yang dibangun pada masa kejayaan raja Hindu atau Mataram Kuno pada tahun 869 Masehi. Dari pantauan detikcom, Selasa (18/1/2011), yang sangat terancam keberadaannya adalah Candi Lumbung di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Magelang.

Bagian belakang Candi Lumbung ini hanya berjarak satu meter dari alur Kali Pabelan dan sungai sudah menggerus tebing setinggi 20 meter di dekat candi. Sebelum banjir lahar dingin, kedalaman dan curamnya candi hanya berjarak 10 meter dan talud/tanggul yang memperkuat bangunan candi sudah hilang diterjang lahar.

Sedangkan, Candi Asu jaraknya masih sekitar antara 200 meter dengan alur Kali Pabelan dan Candi Pendhem juga sekitar 200 meter dari Kali Tlising. Beberapa bagian candi berserakan dan jatuh tidak teratur, karena pergerakan tanah saat gemuruh banjir lahar dingin.

Ariyanto (34), warga Desa Sengi, mengatakan Candi Lumbung yang dulu sering jadi tempat lumbung padi ini tidak terawat dan belum pernah dipugar. Masyarakat juga khawatir Candi Asu dan Candi Pendhem yang sering jadi tempat ritual seniman dan tokoh spiritual, juga runtuh akibat lahar dingin.

"Kondisi ini diperparah lagi dengan terjangan lahar dingin yang membuat candi banyak berubah bentuknya," ujar Ari pendek.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Ikhsan, mengatakan perlu ada perhatian khusus dari Pemprov Jateng untuk segera menyelamatkan candi. "Jika tidak, batu-batu candi dalam waktu tidak lama akan diterjang banjir lahar dingin yang semakin mengganas," tegas Ihksan.

Selain itu, akses jalan menuju Candi Asu dan Candi Pendhem menuju ke Candi Lumbung juga sudah terputus oleh terjangan lahar dingin Merapi. Kali Pabelan dan Kali Tlising yang memisahkan ketiga candi itu sudah terendam material lahar dingin Merapi yang memutuskan jembatan sekaligus yang berfungsi sebagai bendungan antar dusun di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Magelang.
(sumber:http://www.detiknews.com)

Pu­ting be­li­ung ru­sak 150 ru­mah

Ma­ge­lang (Es­pos) Angin pu­ting be­li­ung me­lan­da le­reng Gu­nung Sum­bing, Ka­bu­pa­ten Ma­ge­lang, Kamis (13/1). Aki­bat­nya, 150 ru­mah war­ga di wi­la­yah De­sa Mang­li, Ke­ca­mat­an Ka­li­ang­krik ru­sak.
Ke­pa­la De­sa Mang­li, Ju­wan­di, me­nye­but­kan ada ti­ga du­sun yang ter­ke­na ben­ca­na ter­se­but, me­li­pu­ti Du­sun Bo­yong, Da­dap­an dan Mang­li. “Ke­ba­nyak­an ru­sak di ba­gi­an atap,” ka­ta dia, Ju­mat (14/1).


Sa­tu ru­mah, yak­ni mi­lik Tar­jo, yang ada di bu­kit Bon­tong, ro­boh. Ru­mah ter­se­but ke­mu­di­an di­bong­kar oleh war­ga, un­tuk ke­mu­di­an di­di­ri­kan ru­mah se­der­ha­na. War­ga di­ban­tu apa­rat TNI dan Pol­ri ma­sih me­la­ku­kan pem­ber­sih­an pu­ing-pu­ing ru­mah ter­se­but, ser­ta se­jum­lah ru­mah war­ga lain­nya yang ikut ru­sak.

Se­lain ru­mah, pu­ting be­li­ung ju­ga me­ru­sak an­te­na be­kas pe­man­car sta­si­un te­le­vi­si swas­ta lo­kal. An­te­na se­ting­gi 15 me­ter di pe­rut Sum­bing itu pa­tah ba­gi­an ujung­nya se­pan­jang li­ma me­ter. Ba­ngun­an per­se­mai­an bi­bit ta­na­man atau yang di­se­but gre­en box mi­lik war­ga De­sa Mang­li ju­ga ru­sak. Pa­da­hal, ba­ngun­an itu me­ru­pa­kan ban­tu­an da­ri Pe­me­rin­tah Pro­vin­si Ja­teng se­ni­lai Rp 20 ju­ta.

Bantuan

Ju­wan­di me­nam­bah­kan, ben­ca­na angin pu­ting be­li­ung se­ring me­lan­da ka­was­an itu, na­mun yang ter­akhir itu pa­ling pa­rah. Hing­ga Ju­mat ke­ma­rin, be­lum ada ban­tu­an yang di­be­ri­kan ke­pa­da ra­tus­an pe­ta­ni yang ru­mah­nya ru­sak.

Dar­man­to, 58, war­ga Du­sun Mang­li Kra­jan, me­nga­ta­kan sa­at angin pu­ting be­li­ung me­lan­da, di­ri­nya se­dang ber­ada di ke­bun­nya yang ter­le­tak di Le­reng Sum­bing. Ia sem­pat me­li­hat sa­at angin ter­se­but da­tang se­ki­tar 200 me­ter di se­be­lah uta­ra dia ber­ada.

Angin se­ting­gi 15-20 me­ter itu ber­pu­tar-pu­tar dan ber­ge­rak ke arah uta­ra men­ja­uhi di­ri­nya, me­nu­ju per­kam­pung­an. “Sa­ya ha­nya bi­sa me­li­hat, tak be­ra­ni ber­buat apa-apa,” ung­kap­nya.

Angin yang me­lan­da se­ki­tar 30 me­nit itu me­mo­rak-po­ran­da­kan ru­mah war­ga yang ber­ada an­ta­ra 6-8 km da­ri pun­cak Gu­nung Sum­bing. Ti­dak ada kor­ban ji­wa da­lam ke­ja­di­an itu ka­re­na bia­sa­nya, di si­ang ha­ri, war­ga se­tem­pat ber­ada di sa­wah­nya.

Ke­pa­la Sub Bi­dang Pe­nye­la­mat­an dan Pe­nang­gu­lang­an Ben­ca­na Ba­dan Ke­sa­tu­an Bang­sa, Po­li­tik dan Pe­nang­gu­lang­an Ben­ca­na, Ka­bu­pa­ten Ma­ge­lang, He­ri Pra­wo­to, me­nga­ta­kan ben­ca­na yang dia­la­mi war­ga ter­se­but ter­go­long ri­ngan, be­ru­pa atap me­lo­rot. “Sa­ya ke sa­na, ru­mah-ru­mah su­dah di­ber­sih­kan dan di­ta­ta kem­ba­li atap­nya,” ujar­nya. - Oleh : JIBI/Ha­ri­an Jog­ja/nia

(sumber:http://edisicetak.solopos.co.id)

Kantor Camat Kaliangkrik

Kantor Camat kaliangkrik berada di sebelah selatan Jl raya.Sebelah barat nya ada Puskesmas Kaliangkrik ,sebelah Utara nya ada Sekolah Dasar kalaingkrik 1

Ke Magelang, Jangan Lupa Coba Kupat Tahu


MAGELANG, Jawa Tengah, bukan hanya terkenal akan akan getuknya, makanan khas lain yang bisa Anda nikmati adalah kupat tahu. Makanan tradisional ini terdiri dari potongan kupat dan tahu yang diguyur dengan kuah kacang berbumbu. Kupat sendiri merupakan sebutan dalam bahasa Jawa untuk ketupat.

Mengenai bumbu kupat tahu, ini terbuat dari paduan kacang tanah goreng, bawang putih, serta cabe rawit yang telah dihaluskan. Untuk menambah kenikmatan rasa, bumbu itu ditambah dengan sedikit garam dan kecap manis.

Di dalam seporsi kupat tahu, terdapat beberapa bahan pelengkap lain, seperti tauge yang telah direbus, kol yang diiris tipis, daun seledri serta taburan bawang merah yang telah diiris tipis dan digoreng. Yang tak pernah ketinggalan dari seporsi menu khas Magelang ini adalah kerupuk udang dan beberapa potong bakwan goreng.

Melihat cara penghidangan kupat tahu, ini hampir seperti ketoprak hanya isinya yang berbeda. Pertama, bumbu kacang dihaluskan langsung di atas piring yang akan dihidangkan kepada konsumen. Setelah bumbu siap, barulah diberi beberapa potong kupat, bakwan goreng, irisan kol, daun seledri, serta bawang goreng.

Citarasa segar sangat mendominasi makanan khas ini. Kesegaran itu didapat dari tauge yang dimasak setengah matang. Selain itu, tahu goreng yang disajikan panas, menambah sensasi kegurihan tersendiri.

Bagi penyuka pedas, Anda bisa dibuat berkeringat jika memesan kupat tahu pedas. Sensasi pedas didapat dari cabai rawit merah yang disertakan dalam racikan bumbu kacang.

Sesuai dengan asalnya, kupat tahu bisa Anda jumpai di berbagai penjuru kota Magelang, mulai dari warung, rumah makan maupun pedagang keliling. Meski mudah dijumpai, salah satu warung kupat tahu yang cukup populer bisa Anda jumpai di dekat pintu masuk Taman Rekreasi Kyai Langgeng.

Kalau akan atau sedang di Magelang, jangan lupa cicipi kupat tahu yang biasa dijual dengan harga berkisar Rp4.000-Rp6.000. Khusus penyuka rasa pedas, mungkin harus ditahan dulu karena harga cabai sedang melonjak. Selamat menikmati. (wisatamelayu.com/*/X-13)
(sumber:http://www.mediaindonesia.com)

Puting Beliung Rusak 150 Rumah Petani di Gunung Sumbing

Magelang - Cuaca ekstrem di sejumlah daerah turut berdampak di lereng Gunung Sumbing, Magelang. 150 Rumah petani rusak akibat angin puting beliung.

Pantauan detikcom, Jumat (14/1/2011), 150 rumah ini milik 125 Kepala Keluarga (KK) di tiga dusun di Desa Mangli, Kecamatan Kali angkrik, Magelang, Jawa Tengah. Satu rumah bahkan rubuh dari terjangan angin puting beliung yang hanya terjadi 30 detik saja.

Ketiga dusun yang terkena dampak adalah Dusun Mboyong (166 jiwa), Dusun Dadapan (136 jiwa) dan yang terparah adalah di Dusun Mangli (208 jiwa). Sebuah pemancar stasiun televisi lokal setinggi 15 meter juga patah. Persemaian bibit milik warga Desa Mangli juga rusak.

"Tiba-tiba datang angin puting beliung setinggi antara 15-20 meter dari arah selatan ke utara dengan kencangnya," kata Darmanto (58) saat mengais puing-puing rumahnya.

Dalam waktu 30 detik, angin sudah memporak-porandakan bagian atas ratusan rumah warga yang berada di radius antara 6-8 kilometer dari puncak lereng Gunung Sumbing. "Untung saja saat itu tidak ada korban jiwa, karena di siang hari para petani sedang menggarap kebunnya yang rata-rata sebagai petani sayur dan buah strawberry," jelas Darmanto.

Juwandi (48), Kepala Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik menyatakan rata-rata kerusakan rumah adalah atap jebol dan genteng beterbangan di wilayah yang berada di ketinggian 1.500 mdpl ini. Karjo (55) warga setempat, harus merelakan rumahnya roboh.

Saat ini, warga dengan petugas TNI Kodam IV Diponegoro Jateng dan Polri Polres Magelang masih melakukan proses pembersihan terhadap puing-puing bagian atap warga. Belum ada bantuan yang diberikan kepada ratusan petani yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung itu.

"Selain membersihkan, pihak kecamatan dan perangkat desa masih melakukan pendataan terhadap kerusakan yang ditimbulkan bencana angin puting beliung," kata Juwandi.

Juwandi menjelaskan bencana angin puting beliung ini sering terjadi di lereng Gunung Sumbing. Bahkan, fenomena alam yang membahayakan itu sudah dianggap biasa oleh ratusan petani yang rata-rata masih berada di bawah garis kemiskinan itu.

(fay/nrl)
(sumber:http://www.detiknews.com)

Puting Beliung Rusak 150 Rumah di Magelang


Magelang, CyberNews. Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa akan terjadi cuaca ekstrem menjadi kenyataan. Salah satunya terjadi angin puting beliung di Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Akibat terjangan angin putting beliung, 150 rumah milik 125 Kepala Keluarga (KK) rusak. Satu rumah milik milik Tarjo (55) bahkan sampai roboh.

Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan di lokasi kejadian angin putting beliung tersebut terjadi pada Kamis siang sekitar pukul 11.30 WIB dan berlangsung sekitar 30 detik. Ada tiga dusun yang menjadi korban angin puting beliung ini yakni Dusun Mboyong (166 jiwa), Dusun Dadapan (136 jiwa) dan yang terparah adalah Dusun Mangli (208 jiwa).

Menurut Darmanto (58), warga Dusun Mangli Krajan sebuah antena bekas pemancar stasiun televisi lokal TATV setinggi 15 meter juga patah sekitar 5 meter. Bahkan bangunan persemaian bibit ‘green box” bantuan Pemerintah Provinsi Jateng rusak.

“Saat itu, saya sedang ke kebun menanam sayuran loncang. Kebun saya ada di kaki Gunung Sumbing. Namun tiba-tiba ada angin lesus sekitar 15-20 meter,” kata dia.

Darmanto mengatakan angin lesus datang dari arah Selatan menuju utara dengan kecapatan tinggi. Rumah dan pohon yang berada di jalur angin lesus tersebut seketika rusak dan ambruk.

Kepala Desa Mangli Juwandi (48) mengatakan saat musibah terjadi kebanyakan penduduk tengah berada di sawah sehingga tidak ada korban jiwa. Dengan dibantu puluhan anggota TNI dan Polri, warga kemudian memperbaiki atap rumah yang rusak. "Banyak anggota kami yang masih ada di lokasi bencana banjir lahar dingin di Kecamatan Salam jadi yang ikut perbaikan rumah hanya delapan," kata Danramil Kaliangkrik Kapten Infanteri Semangin.

Sementara itu, 47 anggota polisi ikut memperbaiki rumah-rumah yang rusak. Mereka berasal Polres Magelang (25), Polsek Kaliangkrik (10), Polres Bandongan (lima) dan Polsek Windusari (tujuh). "Kami kerahkan anggota sejak pukul 08.00 pagi," kata Kapolsek Kaliangrik AKP Faizun.

( MH Habib Shaleh / CN16 / JBSM )


(sumber:http://suaramerdeka.com)

Warga Borobudur Bersihkan Rumah Korban Banjir Lahar

MAGELANG--MICOM: Ratusan warga Borobudur berasal dari berbagai kalangan membantu membersihkan rumah-rumah korban banjir lahar dingin susulan Gunung Merapi dari timbunan pasir di Dusun Ngemplak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Pengiriman tenaga relawan dari desa kami dalam jumlah cukup banyak rencananya besok (14/1), tetapi sebagian kecil sudah mulai sejak Rabu (12/1) terutama untuk survei, hari ini (13/1) ada satu truk dikirim juga," kata Kepala Desa Borobudur, Maladi, di Borobudur, Kamis (13/1).

Wilayah Desa Ngemplak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang yang relatif tidak jauh dari Candi Borobudur, dilewati alur sungai berbentuk kelokan huruf "S" Kali Pabelan turut diterjang banjir lahar dingin susulan terbesar dari Gunung Merapi pada Minggu (9/1) malam.

Ratusan warga setempat mengungsi ke Balai Desa Ngrajek, sedangkan tumpukan pasir hingga masuk rumah-rumah mereka, beberapa rumah rusak cukup parah. Selain itu, areal pertanian, perikanan, dan pekarangan warga di tepian alur sungai itu juga tertimbun pasir.

Ia menjelaskan, berbagai kalangan warga sekitar Candi Borobudur yang turut terjun membersihkan rumah korban banjir lahar dingin di dusun itu antara lain perangkat desa, sejumlah organisasi warga, pegawai Taman Wisata Candi Borobudur, kelompok pemuda, dan unsur Satuan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Desa Borobudur.

Pihaknya segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Magelang dan warga Dusun Ngemplak untuk aksi peduli warga Borobudur terhadap korban banjir lahar dingin tersebut.

Ia mengatakan, berbagai perbekalan yang akan dibawa warga untuk aksi peduli itu antara lain pacul, sekop, dan cetok.

"Selanjutnya kami akan kaji untuk langkah kepedulian berikutnya. Tetapi kami saat ini terutama bisa membantu dalam bentuk tenaga, karena kami juga terkena dampak letusan Merapi 2010," katanya.

Saat gempa bumi di Bantul, Yogyakarta, 2006, katanya, warga setempat juga aksi peduli hingga satu bulan.

Ia mengaku, hingga saat ini masih terus mengajak berbagai kalangan masyarakat setempat lainnya untuk turut membantu korban banjir lahar dingin. (Ant/OL-9)
(sumber:http://www.mediaindonesia.com)

Jalur Magelang-Jogja Dibuka

MUNGKID (RP)- Setelah sempat ditutup selama hampir 72 jam, Jalan raya Magelang-Jogjakarta di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, yang terputus sejak Ahad (9/1) malam akibat tertutup lahar dingin Merapi akhirnya kembali dibuka.

Setelah pengerukan jutaan material yang menumpuk di badan jalan selesai, jalur dibuka lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Kapolres Magelang, AKBP Kif Aminanto mengatakan jalur utama tersebut dibuka sekitar pukul 02.00 dini hari, Rabu (12/1). Pembukaan jalur membutuhkan waktu yang cukup lama karena timbunan material mencapai jutaan meter kubik. ‘’Kita memang percepat prosesnya, karena ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari warga,’’ tutur Kapolres, kemarin.

Hanya saja, dia mengatakan jalur utama tersebut belum sepenuhnya pulih. Kendaraan yang melintas juga harus bersabar karena badan jalan yang menyempit. Empat jalur yang sebelumnya ada di kawasan tersebut kini hanya menyisakan dua lajur. ‘’Kita atur supaya satu-satu, karena di samping kanan dan kiri badan jalan masih ada tumpukan material pasir dan batu,’’ terang Kif.

Lambatnya jalur di sana, kata dia, juga dipicu banyaknya warga yang ingin menyaksikan lokasi banjirnya lahar dingin tersebut. Beberapa warga setempat yang sedang mengevakuasi sisa-sisa barang berharganya juga turut menambah padatnya arus lalu lintas. ‘’Ya karena memang kondisinya seperti ini. Yang
penting harus hati-hati,’’ katanya.

Pantuan JPNN, di lokasi sejumlah alat berat juga masih dikerahkan. Beberapa truk pengangkut pasir juga turut hilir mudik memenuhi setiap lajur jalan sempit itu. Sejumlah petugas polisi dan warga nampak terlihat mengatur arus lalu lintas di sepanjang jalur.

Terpisah, Asisten Bidang Pemerintahan Pemkab Magelang Agung Trijaya saat memimpin rapat koordinasi penataan material Merapi, kemarin meminta agar seluruh material pasir dan batu yang masih menumpuk di sepanjang jalur Gulon-Sirahan untuk segera dibersihkan.

Dia mengatakan instansi yang bertanggung untuk membersihkan adalah Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM berkoordinasi dengan Bina Marga Propinsi Jateng. ‘’Material yang menumpuk di pinggir jalan raya bukan menjadi tanggung jawab Pemkab Magelang. Namun bila di luar jalan menjadi tanggung jawab Pemkab,’’ katanya.

Meski demikian, dia mengaku belum bisa memastikan ke mana pasir yang diangkut akan ditampung. ‘’Itu bisa kita koordinasikan dengan instansi-instansi terkait. Yang terpenting saat ini jalan tersebut harus bersih dari material Merapi sehingga arus lalu lintas lancar kembali,’’ tegasnya.

Kades Jumoyo, Sungkono mengemukakan, banjir lahar dingin kemungkinan akan terus terjadi hingga 5 tahun ke depan dan akan selalu menjadi ancaman bagi warga. Sehingga perlu penanganan yang efektif.

Namun, kondisi kritis di bantaran Kali Putih nampaknya tidak akan mendapatkan penanganan serius dalam waktu dekat. Pasalnya, penanggung jawab sungai, Balai Besar Wilayah Sungai (BWWS) menyatakan baru akan mengatasi masalah tersebut saat ancaman banjir lahar benar-benar selesai.(vie/jpnn)

(sumber:http://riaupos.com)

Pengungsi Merapi Keluhkan Air Bersih


Liputan6.com, Magelang: Bukan hanya bantuan logistik, pengungsi Gunung Merapi di penampungan akhir Tanjung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, juga kekurangan air bersih. Dari pantauan SCTV, Rabu (12/1), hal ini terjadi karena listrik penggerak pompa air yang tidak stabil akibat terjangan banjir lahar dingin.

Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Magelang Nurhuda menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara. Keduanya akan membenahi sistem pompa air sehingga pengungsi dapat kembali mendapatkan air bersih.

Kini para pengungsi hanya bisa pasrah menerima kondisi pengungsian dengan segala keterbatasan. Kebutuhan dasar seperti makan, tidur, dan mandi, hanya didapat seadanya. Namun mereka tetap berharap pemerintah dapat membantu untuk kembali memberi tempat tinggal baru yang layak pada mereka.(ADO)

(sumber:http://berita.liputan6.com)

Kisah Marina, Ibu Muda yang Selamat Bersama Balitanya meski Terseret Banjir Lahar Dingin


Ketika banjir lahar dingin menerjang perkampungan penduduk di Magelang Minggu petang lalu (9/1), ada dua orang yang terseret arus. Seorang meninggal, seorang lagi selamat. Marina, korban yang selamat itu, terseret bersama anak semata wayangnya yang baru berumur 4 tahun. Bagaimana kisahnya?

========================= MUKHTAR LUTFI, Magelang =========================
HINGGA kemarin, Marina masih dirawat di RSUD Muntilan, Magelang. Tubuh perempuan 32 tahun itu masih dialiri infus. Beberapa bekas luka memar berwarna merah masih jelas kentara di bagian kaki, tangan, dan punggung sisi kirinya.

Wajah Marina pun masih terlihat pucat. Sesekali tampak meringis seperti menahan sakit. Namun, di balik rasa sakitnya itu, warga Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Magelang, itu sangat bersyukur. Terjangan dahsyat banjir lahar dingin pada Minggu petang itu tidak sampai merenggut nyawanya. Mukjizat besar telah menyelamatkan dia dan anak semata wayangnya yang berusia 4 tahun, Muhammad Zaki.

"Dari sisi fisik, korban hanya mengalami memar. Tapi, yang agak berat adalah perasaan trauma yang masih dia rasakan," kata dr Sutikno yang menangani Marina.

Menurut Sutikno, trauma yang dialami Marina termasuk cukup parah. "Tapi, saya yakin, dia akan segera pulih kembali," lanjutnya.

Tanda-tanda masih trauma, lanjut Sutikno, dirasakan ketika mengajak ngobrol Marina. "Hal itu (trauma) yang masih mengganggunya," terang dia.

Tanda-tanda masih trauma dengan peristiwa yang dialami juga dapat dirasakan Radar Semarang (Jawa Pos Group) ketika mewawancarai Marina. Ketika ditanya seputar kisah yang dialaminya, semula Marina menolak. Dia beralasan tak mau mengingat-ingat peristiwa paling mengerikan sepanjang hidupnya itu.

"Yang penting saya sudah selamat. Allah masih melindungi saya," terang Marina sembari menyandarkan punggungnya pada tempat tidur di ruang Flamboyan RSUD Muntilan.

Saat kembali didesak untuk menceritakan peristiwa yang dia alami, janda satu anak itu justru menangis tersedu-sedu. Itu membuat beberapa perawat datang dan mencoba menenangkan dia. Setelah sedikit tenang dan setelah beberapa perawat itu ikut membujuk, Mariana akhirnya mau menceritakan pengalamannya.

Setelah beberapa kali menghela napas panjang, Marina memulai ceritanya. Minggu petang itu dirinya dan anak semata wayangnya sedang berada di rumah. Sehari-harinya Marina hidup bersama anaknya tersebut. Tiba-tiba dia mendengar warga panik. Itu terjadi setelah lahar dingin meluap dari Kali Pabelang dan menerjang perkampungan, termasuk kampung tempat Marina tinggal.

Marina dan warga di sekitarnya sempat heran, bagaimana bisa banjir lahar meluap dan menerjang perkampungannya. Padahal, jarak rumahnya terhitung lebih dari 300 meter dari bibir Kali Pabelang. Kedalaman kali itu pun sebelum banjir sekitar 10 meter. Dari sisi ini, sulit dipercaya, bagaimana bisa lahar dingin meluap dari sungai dan terjangannya menuju ke perkampungan Marina.

Yang membuat ngeri warga, banjir lahar yang menerjang itu membawa material erupsi Gunung Merapi berupa pasir dan bebatuan. Itu mengakibatkan rumah-rumah warga yang diterjang banjir hancur berantakan. Saat itu Marina lari sekencang-kencangnya bersama warga lain sambil menggendong Zaki. Mereka menuju ke tempat yang lebih aman. "Pikiran saya waktu itu, pokoknya lari. Saya dan anak saya harus selamat," katanya dengan nada bergetar.

Mungkin karena berlari terlalu cepat, ditambah lagi diliputi perasaan panik, Marina terpeleset. Dia terjatuh dan anaknya ikut terjatuh. Saat itulah, banjir lahar datang tanpa kompromi. Beruntung, saat aliran lahar dingin tersebut menyeret
Marina, perempuan 32 tahun itu sudah memegangi dan menggendong anaknya. Maka, ibu dan anak itu pun terseret bersama. "Banjir kan datang dua kali. Itu yang pertama," ceritanya. Marina dan anaknya saat itu terdorong gulungan air lahar hingga menabrak tembok rumah tetangganya.

Dengan susah payah, akhirnya dia bisa berpegangan di tembok sembari menggendong anak semata wayangnya. Sejurus kemudian dia memanjat untuk berlindung. "Sebisa saya, saya naik ke atas tembok," kenang Marina, yang kemudian tanpa sadar meneteskan air mata.

Namun, lagi-lagi Marina harus mengakui kehebatan alam. Belum lama menghela napas lega, tembok tersebut justru jebol dihantam batu-batu besar. Marina dan Zaki pun kembali hanyut. "Banjir kedua ini yang lebih besar, dengan bebatuan juga," tuturnya.

Kala itu tak ada tempat untuk berpegangan. Ibu dan anak tersebut akhirnya terseret sejauh 500 meter menuju ke hilir sungai. "Waktu itu saya pasrah. Mungkin saat itu saya akan mati bersama dengan anak saya," katanya.

Saat terombang-ambing dalam lautan lahar dingin itu, Marina sempat putus harapan. Untung, ada sebuah batang pohon pisang hanyut di dekatnya. Tanpa berpikiran panjang, batang itu dia raih.

Anaknya yang masih dalam pegangannya didekap erat-erat. Dia kemudian meminta anaknya naik ke batang pohon pisang, sementara dia memeganginya. "Saya berteriak saja, Allahu Akbar, Allahu Akbar, sekuat tenaga, sambil berteriak meminta tolong," terangnya sembari tangannya terlihat mengepal.

Ibu dan anak ini akhirnya ditolong oleh warga dan beberapa relawan. Keduanya dibawa menepi dengan menggunakan tali tambang. Meski begitu, Marina mengaku masih sangat trauma. Dia belum berani pulang ke rumahnya.

Apalagi, Marina mendengar kabar bahwa seorang orang yang juga terseret banjir lahar ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Dia adalah Sumiyati, 65, warga Dusun Jetis, Sirahan. Tubuh Sumiyati ditemukan tim SAR tersangkut di atas pohon rambutan. "Saya sekarang kepikiran anak saya (dia dititipkan di rumah orang tuanya). Saya sebenarnya ingin pulang. Tapi, saya tak berani kalau pulang ke rumah," katanya. (jpnn/c4/kum)

(sumber:http://www.jpnn.com)